Pendidikan Islam dan Bencana Kebodohan

"Barang siapa tidak peduli terhadap nasib agama, berarti ia tidak punya agama, barang siapa yang semangatnya tidak berkobar-kobar jika agama Islam ditimpa suatu bencana, maka Islam tidak butuh kepada mereka.", Ungkapan Imam Al-Ghazali ini merupakan sebuah tamparan bagi kita yang cenderung acuh menyaksikan realitas kehidupan umat islam yang saat ini ditimpa dengan berbagai bencana. Mulai dari bencana intoleransi, degradasi moral-spiritual, bencana kemiskinan dan keterbelakangan, termasuk kebodohan. Baca juga Cara Menanamkan Kesalehan Sosial pada Peserta Didik

"Al-Islam baina Jahli Abnaihi wa 'Ajzi Ulama'ihi" (Islam berada di antara kebodohan umatnya dan ketidakmampuan ulamanya), itulah ungkapan seorang penulis besar di Mesir yang bernama Abdul Qadir Audah.

Umat dengan kebodohannya karena saling memfitnah, mencaci, mengkafirkan, sesat menyesatkan hanya karena perbedaan mazhab atau pemikiran. Semua itu karena mereka tak mau menggali lebih banyak khazanah intelektual Islam, cepat mempercayai isu-isu, merasa benar, paling benar atau suci, memandang pihak lain dengan kebencian, sudah merasa puas dengan ilmunya, suka mencurigai/buruk sangka kepada pihak lain, meremehkan akhlak demi hawa nafsunya, tak mau memahami akhlak-Nya dan sifat2-Nya, suka mencari cari kesalahan pihak lain yang dianggap sesat.

Sementara ulamanya cenderung acuh, kurang peduli, tak mampu mendamaikan atau memberi pencerahan terhadap keadaan umat yang seperti itu. Justru ulamanya juga ikut-ikutan menyebarkan isu, fitnah, kebencian, judge kafir dan sesat kepada pihak lain dengan cara menulis buku atau artikel dan berceramah yang tujuannya untuk merendahkan, memfitnah, benci, atau menyerang suatu pemikiran/mazhab.

Setiap muslim memikul tanggungjawab untuk mempelajari, menjaga, dan meneruskan warisan Nabi Muhammad SAW. berupa agama Tauhid sebagai pedoman dan pegangan hidup manusia sejak di dunia sampai di akhirat. Allah menciptakan manusia beserta peran yang harus dijalankannya

Dalam konteks pendidikan, orang yang dititipi ilmu memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan ilmunya kepada yang lain, di samping dia sendiri berkewajiban untuk mengamalkan ilmunya dalam tindak laku sehari-hari. Ilmu merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui proses bimbingan dan pengajaran oleh guru.


Bencana kebodohan yang melanda umat islam salah satunya diakibatkan oleh lemahnya kepedulian orang-orang berilmu terhadap masyarakat sekitarnya yang mayoritas masih awam dan dangkal pemahamannya terhadap agama. Bahkan ancaman bagi orang yang berilmu namun acuh dengan kebodohan umat yang ia saksikan sungguh sangat berat.

"Ballighuu 'annii walau ayat", begitu pesan rasulullah saw. yang menyerukan kepada kita untuk menyampaikan kebaikan (karena setiap yang datang dari rasulullah pasti baik) walaupun hanya satu kata. Sekecil apa pun sebuah kebaikan, ia ibarat benih yang kita tanam di mana suatu saat nanti kita akan menuainya. Tuhan tidak pernah mengabaikan sekecil apapun kemanfaatan yang kita kontribusikan bagi agama dan kemanusiaan.

Kita dapat meneladani bagaimana kepedulian Imam Al-Ghazali untuk menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama yang ia rasakan semakin hari semakin tenggelam akibat kecenderungan manusia yang semakin mencintai duniawi secara berlebihan, hingga muncullah kitab Ihya' Ulumuddin yang berjilid-jilid dan sampai sekarang masih dibaca dan dikaji di seluruh dunia.

Bila memang kita tidak mampu seperti Al-Ghazali, minimal tunjukkan kepedulian kita dengan menghidupkan majelis-majelis ilmu seperti TPQ atau madrasah diniyah untuk anak-anak yang ada di lingkungan sekitar kita. Jika kapasitas keilmuan kita belum mumpuni, kita bisa mempercayakan kepada kyai/ulama' yang kredibel keilmuannya.

Kesimpulannya, kita harus menjadi seorang muslim yang pembelajar, yang tidak pernah berhenti untuk belajar di mana dan kapan saja. Karena melalui proses belajar dan pembelajaran kita bisa memperoleh ilmu yang dengan ilmu tersebut kita dapat berkontribusi dalam mengatasi bencana kebodohan umat.

0 Komentar Pendidikan Islam dan Bencana Kebodohan

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top