Minggu, 25 September 2016

Fakta Ilmiah Tentang Pola Pikir Kaum Khawarij

Di zaman ini, memang tidak ada kelompok atau sekte islam yang menamakan dirinya sebagai Khawarij. Namun pola pikir dan sifat-sifat dari Khawarij yang lahir di era sahabat Ali ini akan terus ada sepanjang masa, sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai Khawarij Gaya Baru. Bahkan seandainya di dunia ini umat islam hanya tersisa 3 orang saja, salah satunya pasti ada yang mewarisi pola pikir dan sifat sekte Khawarij.

Sebelum masuk pada pembahasan mengenai ciri dan pola pikir orang Khawarij secara umum, ada hal-hal yang perlu kita ketahui bersama tentang golongan yang satu ini, yakni sebagai berikut:
  • Bahwa golongan yang satu ini memang seluruhnya ahli ibadah dan berusaha sekeras mungkin untuk menegakkan syariat islam, menurut prasangka mereka.
  • Ibnu Abbas, seorang sabahat rasulullah saw. memberikan ciri fisik terkait kelompok ini, yaitu dahinya gosong dan pakaiannya cingkrang. Bahkan dalam sejarah pembasmian Islam garis keras yang dilakukan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib di Nahrawan, sebelum berperang kelompok ini semuanya membaca Al-Quran. Padahal pasukan sayyidina Ali yang notabene penuh dengan sahabat rasulullah saw. tidak melakukan hal itu.

Gambar: puttem-islama.com
Sebuah catatan penting, bahwa dalam kelompok Khawarij tak ada satupun tokoh pencetusnya yang berasal dari sahabat Nabi saw. bahkan sayyidina Ali meninggal dibunuh oleh mereka. Yang membunuh jidatnya hitam dan hafal Al-Quran. Dari sini dapat dirumuskan bahwa hafal Quran bukanlah jaminan kesalehan seseorang.

Adapun ciri umum kelompok dalam islam yang berpola pikir seperti Khawarij adalah sebagai berikut:
  1. Mereka terlalu berlebihan dalam mempraktekkan agama, cenderung gampang untuk menuduh bid’ah dan menyalahkan. Dan pada ranah yang lebih ekstrem lagi yaitu mengkafirkan sesama muslim, hingga sampai pada titik menghalalkan darah dan harta sesama muslim yang tidak seide dan sepolapikir dengan mereka.
  2. Mereka begitu semangat dengan teks Al-Quran dan Sunnah, namun tidak memahami dengan baik apa maksud yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, mereka itu tekstualis, memahami teks hanya sampai pada redaksinya saja, itupun hanya sepotong-sepotong, tidak menyeluruh dan terpadu. Inilah yang menjadi sumber masalah terbesar, di mana seringkali mereka menggunakan ayat/hadits tidak sesuai konteksnya atau salah penempatan dalil.
  3. Mereka cenderung mengajak untuk melawan pemerintahan yang ada, dengan alasan pemerintahan itu tidak menerapkan syariat islam. Dan bila diperhatikan, ayat yang digunakan ialah ‘wa man lam yahkum bimaa anzalallah...dst.
  4. Di mana saja mereka berada, kelompok yang satu ini selalu berusaha memecah belah persatuan dengan ulah mereka. Padahal rasulullah saw. sangat melarang perpecahan.
  5. Mereka begitu mudah memberi label yang lain dengan label sesat tanpa memahami (atau sengaja tidak mau memahami) apa alasannya.
  6. Suudzon, cenderung berburuk sangka. Dan inilah penyakit hati paling menonjol dan paling berat kelompok ini, yang mendorong mereka pada kehancuran hidup tanpa mereka sadari.
  7. Mereka sangat keras terhadap sesama muslim, apalagi yang tidak seide dengan mereka. Dan pada level yang paling berat yaitu sampai pada titik t3r0risme. Akan tetapi mereka malah bersikap lembut dan bersahabat kepada non-muslim, apalagi bila ditunggangi oleh kepentingan tertentu seperti politik.
Adapun beberapa hal yang menyebabkan seseorang terjebak pada pola pikir Khawarij di antaranya sebagai berikut:
  1. Dalam belajar agama islam, tidak melalui jalur aslinya atau sanad keilmuan yang jelas, yang tersambung sampai pada rasulullah saw.
  2. Membaca secara otodidak buku-buku keagamaan tanpa bimbingan seorang guru yang terpercaya sanad keilmuannya. Apalagi buku/kitab terjemahan yang penerjemahnya latar belakang keilmuannya juga tidak jelas.
  3. Belajar ilmu agama secara otodidak lewat internet, dan sementara sumber yang dibaca adalah web/blog yang ditulis oleh orang-orang berpola pikir Khawarij. Di dalam dunia Tarbiyah Abawiyyah Syar’iyyah (jalur transmisi ilmu agama yang sesuai tuntunan Nabi saw.) ada pameo cukup terkenal yang berbunyi : “Seseorang yang membaca buku keagamaan tanpa guru, maka gurunya adalah setan. Dan potensi ketersesatannya 80%”.
  4. Faktor penyebab lainnya adalah menjauh dari ulama’/kyai yang kredibel dan mumpuni keilmuannya. Dan malah memilih belajar kepada ustad-ustad baru yang tidak jelas kepada siapa dan bagaimana mereka belajar ilmu agama.
  5. Suka menafsirkan Al-Quran dan sunnah dengan pikirannya sendiri tanpa mau kembali ke madzhab empat. Dan malah menyalahkan umat yang mengikuti madzhab empat.
  6. Menggunakan kata-kata baik dari Al-Quran maupun Hadis untuk kepentingan mereka yang selalu busuk.
  7. Mereka terus berusaha keras untuk mem3rangi perangkat ilmu yang membersihkan hati dan jiwa, yakni ilmu Tasawuf. Mereka mengatakan tasawuf sesat dan tidak ada dalam islam. Secara tidak langsung, mereka berusaha untuk membusukkan hati umat secara massal.
  8. Kelompok ini selalu merasa paling benar sendiri meskipun sudah jelas-jelas salah. Serta merasa paling mengerti soal agama. Juga kegemaran mereka memaksakan pendapat bahkan dalam hal-hal furu’iyah yang sifatnya opsional. Misalnya ada suatu persoalan di mana ada ulama yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkannya. Apabila mereka (kelompok berpola pikir Khawarij) memilih tidak membolehkan, maka mereka ngotot agar yang lain juga tidak. Jika ada yang memilih membolehkan dianggap bodoh dan salah, sementara mereka yang paling pintar dan benar. Dalam berdakwah, mereka tidak tau situasi dan kondisi serta tidak bijak.
Dan ketahuilah bahwa, apabila di dalam diri kita ada benih-benih seperti di atas, segera sadari dan lenyapkan. Dan apabila kita melihat teman yang pola pikirnya seperti itu, nasehati dan ajak diskusi dari hati ke hati. (Sumber: FP Kiai Kampoeng)

0 Komentar Fakta Ilmiah Tentang Pola Pikir Kaum Khawarij

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top