Belajar Dari Konflik Mario Teguh dan Kiswinar

Mengamati pemberitaan banyak media mainstream tentang konflik Mario Teguh dengan seseorang bernama Kiswinar yang mengaku sebagai anaknya sepertinya semakin menarik. Media-media mainstream secara bertubi-tubi menulis tentang proses jalannya perseteruan keduanya dengan menampilkan fakta-fakta baru tentang masa lalu Mario Teguh dan hubungannya dengan Ibu Kiswinar yang notabene adalah mantan istrinya yang dulu ia ceraikan.

Pengakuan Kiswinar sebagai anak kandung Mario Teguh adalah latar belakang utama konflik berkepanjangan antara keduanya, hingga memunculkan begitu banyak kisah dan pengakuan dengan narasi yang beragam. Sejauh ini, motif Kiswinar hanya ingin mendapatkan pengakuan dari Mario Teguh bahwa ia adalah anak kandungnya. Sedangkan di sisi lain, Mario Teguh cenderung kukuh mempertahankan pendiriannya dengan anggapan bahwa Kiswinar adalah anak hasil perselingkuhan mantan istrinya yang tak lain adalah ibu Kiswinar dengan laki-laki lain. Dan Mario Teguh menantang Kiswinar untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan kebenaran dari klaimnya tersebut.
Sumber gambar: Wikipedia
Terlepas dari keruwetan konflik antara Mario Teguh dan Kiswinar yang menjadi trending topik di berbagai media, di sini saya hanya ingin mengajak anda untuk merenungkan dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Ada hikmah dan pelajaran penting yang bisa kita petik darinya, di antaranya ialah sebagai berikut:

# Jadilah konsumen media yang cerdas dan kritis

Setiap hari kita dicekoki oleh banjir informasi dari media, terutama media elektronik yang bersifat online. Selalu saja ada isu yang sebenarnya tidak terlalu penting, namun karena kepentingan tertentu sengaja diangkat ke permukaan secara gila-gilaan hingga memancing netizen untuk merespon serta membentuk opini publik. Oleh karena itulah, kita harus benar-benar cerdas dan kritis dalam merespon setiap isu yang dipublikasikan oleh media. Sebelum mengerti dan memahami betul sampai ke akar permasalahannya, jangan sampai kita terpancing untuk menjustifikasi hanya dengan berdasarkan pemberitaan media yang kita sendiri tidak tau benar atau salahnya. Bukan bermaksud untuk menuduh media melakukan pembohongan publik, tapi cobalah untuk berfikir lebih dalam lagi sebelum mengkonsumsi sebuah berita atau isu. Lagipula, tentu masih banyak hal yang lebih penting untuk kita pikir dan kerjakan selain sibuk mengurusi konflik orang lain yang pada akhirnya malah berdampak memunculkan berbagai prasangka dalam diri kita, bukankah begitu?

# Jangan terlalu cepat memvonis negatif

Terburu-buru dalam memvonis segala sesuatu yang didengar atau dilihat merupakan sebuah indikator kedangkalan dalam berfikir dan sempitnya wawasan seseorang. Orang yang berpengetahuan dan berwawasan luas tidak akan terjebak pada perspektif tunggal dalam menilai sebuah permasalahan. Dan tentu saja tidak bijak apabila kita memvonis negatif seseorang hanya berdasarkan satu atau dua artikel yang kemarin kita baca di media.

# Mario Teguh bukanlah nabi yang ma’shum

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifah di Bumi lengkap dengan pembagian tugas dan perannya masing-masing. Ada yang berperan sebagai petani, guru, dosen, pedagang, termasuk motivator seperti Mario Teguh. Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa seorang motivator haruslah sosok orang yang benar-benar sempurna dan jauh dari aib/kesalahan. Inilah yang perlu diluruskan, bahwa sesempurna apapun seorang motivator seperti Mario Teguh, ia tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa, baik di masa lalu, sekarang, atau di masa yang akan datang. Mario Teguh meskipun seorang motivator yang setiap harinya menulis dan mengucapkan kata-kata motivasi yang indah, namun dia bukanlah seorang nabi yang ma’shum, yang terjaga dari kesalahan dan dosa. Memang tabiat manusia itu lebih mudah menerima kebaikan yang disampaikan melalui keteladanan. Namun bukan berarti ucapan dan kata-kata positif yang disampaikan melalui tulisan tak lagi berguna. Lagipula kita tau bahwa tidak semua kebaikan itu berbentuk pengetahuan yang sifatnya praktis dan prosedural, ada juga yang bersifat prinsip dan konseptual. Andai saja pak Mario Teguh mengklaim dirinya sebagai nabi, mungkin nasibnya malah berakhir di jeruji besi sebagaimana para nabi terdahulu yang pernah muncul di negeri ini,,hehe

# Jangan mudah mempublikasikan aib orang lain

Agama Islam mengajarkan, bahwa siapa yang menutupi aib orang lain, maka Allah juga akan menutupi aibnya. Siapa manusia di dunia ini (selain nabi) yang tidak punya aib? Semua punya aib, semua punya kesalahan. Bila Tuhan membuka semua aib kita, tentu tiadalah orang lain yang akan menaruh hormat dan menghargai kita. Dari situ kita seharusnya belajar, bahwa bila kita memang tidak suka dan tidak ingin aib kita diketahui orang lain, maka janganlah mengumbar aib orang lain yang kita ketahui. Cukuplah kita jadikan pelajaran bagi diri kita sendiri untuk memperbaiki kualitas diri kita sendiri.

# Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan

Seringkali kita menolak nasehat baik dan kebenaran yang disampaikan oleh orang lain karena secara emosional kita tidak menyukai orang tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada pelajaran pertama dalam perkuliahan yang disampaikan oleh seorang dosen yang namanya sama dengan nama saya, yaitu “undzur maa qoola walaa tandzur man qoola”, yang artinya lihatlah apa yang diucapkan dan jangan melihat siapa yang mengucapkan. Nah, dari situ kita seharusnya belajar bahwa selama yang dikatakan itu baik, tidak perlu kita menolaknya karena alasan kita tidak menyukai orang yang mengatakannya. Tentunya sebagai orang yang dewasa dan berakal sehat, kita sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bukan?

Dari beberapa pelajaran terkait konflik Mario Teguh dan Kiswinar yang saya uraikan di atas, saya berharap anda dapat menarik kesimpulannya sendiri. Orang yang hatinya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang, tidak akan pernah memandang orang lain dengan sebelah mata. Terkadang kita ini terlalu sibuk mengurusi kejelekan-kejelekan orang lain dan melupakan kejelekan kita sendiri. padahal sesungguhnya, kita tidak perlu repot-repot membahas kehidupan orang lain, toh mereka juga punya kehidupan sendiri, biarkan saja mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Tak perlu kita menyibukkan diri mengurusi perbuatan orang lain.

Dibalik gelapnya malam, ada cahaya rembulan, tak mungkin ada cahaya bila tak ada kegelapan. Maka dari itu, kita harus berusaha untuk terus mencari cahaya dibalik setiap kegelapan, menemukan esensi dari setiap yang nampak. Menggali apa yang belum kita mengerti dan pahami. Karena dalam setiap hal tersimpan rahasia ilahi yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran hidup ini. Agar sebagai seorang muslim yang beriman, kita selalu mawas diri. Agar kita tidak mudah memvonis dan menghujat orang lain. Agar kita tidak mudah menebar benih kebencian pada orang lain. Sebab semua itu akan mengotori hati kita sendiri dan menyulut api kebencian.

1 Response to Belajar Dari Konflik Mario Teguh dan Kiswinar

  1. Kita memang harus arif dan bijaksana dalam menilai sesuatu kejadian ...

    BalasHapus

Wikipendidikan
Back To Top