Kamis, 28 Juli 2016

Reyog, Islam Nusantara, dan “Lahirnya Islam ABC”

Reyog, Islam Nusantara, dan “Lahirnya Islam ABC”

Masih tentang Islam Nusantara. Kali ini tentang sangkaan bahwa ia hendak mengkotak-kotakkan Islam menjadi berbagai jenis. Logika umum yang biasa digunakan terkait isu ini berangkat dari kekhawatiran “kalau ada Islam Nusantara, berarti (bisa) ada pula Islam Melayu, Islam Arab, Islam Portugal, dan sebagainya.”

Sebelum menawarkan argumentasi untuk meluruskan kekhawatiran tersebut, penulis tertarik untuk sedikit bergeser pada hal lain: Reyog. Perlu disepakati bahwa (agama) Islam dan (budaya) Nusantara merupakan sistem nilai, baik yang berperan dari/untuk wilayah keimanan dan peribadatan pada Tuhan Yang Maha Esa maupun yang berangkat dari/untuk akal budi manusia dan menjadi pedoman tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Demikian sebagaimana dimuat oleh KBBI. Artinya, meskipun terejawantah pula dalam tindakan manusiawi yang praksis dan konkret, Islam dan Nusantara tetaplah merupakan istilah yang abstrak dan tak terbatas (indefinite).


Hal ini berbeda dengan Reyog, salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Ponorogo Jawa Timur. Meskipun lahir dari sesuatu yang abstrak (kebudayaan Jawa), Reyog tetap merupakan sesuatu yang lebih konkret karena jelas istilahnya dan kasat mata tampilannya. Jika Anda berkesempatan menyaksikan pementasan kesenian ini, percayalah, penari jathil-nya yang cantik itu akan membuat segalanya makin jelas.

Keragaman adalah Fakta

Di tanah kelahirannya, Ponorogo, kesenian Reyog ini biasanya berkisah tentang pertarungan pasukan Raja Ponorogo Kuno, Prabu Kelana Sewandhana, melawan Prabu Singabarong dari Kerajaan Kediri Kuno. Pada umumnya dengan dimainkan oleh satu orang tokoh sentral penari dadak merak - topeng besar berukuran hingga 2,5 meter dan berbobot hingga 60 kilogram, sebagai pemeran Prabu Singabarong, satu orang pemeran Prabu Kelana Sewandhana, beberapa pemeran warok, beberapa penari jathil, dan beberapa peran pendukung lainnya.

Pada zaman dahulu, dengan batasan waktu hingga tahun 1980-an, penari jathil dalam Reyog diperankan oleh remaja laki-laki berparas manis. Selain berperan sebagai penari jathil dalam Tari Reyog, dalam kesehariannya remaja-remaja rupawan ini menjadi gemblak yang diasuh oleh warok – pemeran warok dalam Tari Reyog yang juga berperan sebagai warok (tokoh masyarakat) dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai hubungan antara jathil-gemblak dengan warok ini, kajian yang dilakukan Setya Yuwana (Pascasarjana FISIP UI, 1994) dapat memberikan penjelasan yang cukup menarik. Barangkali sama menariknya dengan pembahasan hubungan antara mairil dengan bondet atau warok di pesantren.

Singkat cerita, setelah tahun 1980-an, peran penari jathil ini digantikan oleh remaja perempuan. Pergeseran pemeran ini, tampaknya terkait juga dengan keberadaan gemblak dan warok yang semakin surut hingga akhirnya punah. Dan akhirnya hingga kini, keberadaan penari jathil yang berlatarbelakang gemblak benar-benar telah digantikan oleh remaja perempuan – yang tentunya tak kalah bahkan lebih rupawan. Menurut hemat penulis, hal ini sedikit banyak menunjukkan sisi kontekstualitas Reyog. Ia pekajaman seperti kaos Dagadu, up-to-date, dan ini adalah fakta.

Kita bergeser ke negeri jiran Malaysia. Arik Dwijayanto (Universiti Malaya, 2014), dalam kajiannya, menghadirkan fakta bahwa terdapat komunitas keturunan Ponorogo Jawa Timur yang telah lebih dari seratus tahun tinggal di dan menjadi warga negara Malaysia. Di sana, masyarakat diaspora Ponorogo tersebut masih mempraktekkan beberapa produk budaya dari tanah leluhurnya, Ponorogo, seperti bahasa dan adat istiadat Jawa khas Ponorogo. Termasuk juga kesenian Reyog sebagaimana penulis ulas di atas.

Keberadaan Reyog di negeri tetangga ini memang sempat membuat hubungan politik kedua negara menghangat beberapa tahun silam. Dakwaan sebagian publik Indonesia berbunyi “Malaysia mencuri kesenian asli Indonesia, Reyog Ponorogo, kemudian diklaim sebagai asli Malaysia dan diberi nama Tari Barongan”. Kajian yang dilakukan Arik Dwijayanto dapat memberikan penjelasan yang relevan mengenai polemik tersebut, terutama dalam perdebatan otentisitas.

Berbeda dengan Reyog di Ponorogo yang memakai pakem cerita kolosal Kelana Sewandana melamar putri Raja Kediri, Reyog di Malaysia mengalami “islamisasi”. Untuk menarik minat masyarakat dari luar komunitas diaspora Ponorogo, pemerintah Malaysia menggubah tari Reyog atau Barongan itu dengan pengisahan yang menggambarkan Nabi Sulaiman as. yang bisa berkomunikasi dengan binatang. Sebagai catatan, kebijakan pemerintah Malaysia mengenai gubahan cerita ini sebenarnya kurang disetujui oleh sebagian pelaku seni Reyog, yang notabene lebih terkait dengan kesenian ini, karena dianggap terlalu jauh merubah pakem sejarah. Pergeseran penari jathil yang awalnya remaja laki-laki menjadi remaja perempuan sebagaimana di Ponorogo juga berlaku di Malaysia, bahkan hampir seluruh penari jathil di sana mengenakan jilbab dan pakaian tertutup, sebagaimana lazimnya muslimah Malaysia pada umumnya. Tetap lincah dalam melenggak-lenggok di atas kuda bambunya dengan tetap mempertahankan kecantikannya yang berbalut jilbab. Indah dan comel.

Meskipun mengalami beberapa adaptasi yang menyesuaikan budaya islami di tanahnya menjejakkan kaki, dan meskipun pemerintah Malaysia menyebutnya Barongan, bahkan menggubah kisah yang berbeda, Reyog di Malaysia tetaplah Reyog. Meskipun penari jathil itu mengenakan jilbab, mereka tetaplah penari jathil dalam seni Tari Reyog. Lain tidak. Prinsip yang dapat digunakan untuk menilai perbedaan (baca: penyesuaian) antara Reyog di Malaysia dan Indonesia ini adalah sikap al-muhafadhah ala-l-qadim as-shalih wa-l-akhdz bi-l-jadid al-ashlah: mempertahankan seni tari Reyog warisan leluhur dan mengambil sistem nilai islami yang diperoleh di Tanah Melayu.
Walhasil, keberadaan Reyog di Ponorogo, di Malaysia, dan di tempat lainnya seperti Suriname - yang juga memiliki banyak diaspora Jawa, yang beranekaragam merupakan fakta tak terpungkiri dan menunjukkan keragaman variasi pelakunya dalam menjalankan seni Tari Reyog.

 “Islam ABC”

Sebagaimana Reyog yang diamalkan secara unik di Malaysia, demikian juga Islam Nusantara. Hadir dengan seperangkat sistem nilai dari “pabriknya”, Makkah al-Mukarromah, di bumi Nusantara Islam dapat berkembang pesat dengan strategi dakwah yang jitu. Walisongo, misalnya, dapat dengan apik menggubah kisah-kisah tradisional yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Nusantara, menjadi bernafaskan islam. Demikian juga perubahan pemeran jathil yang menunjukkan sisi kontekstualitas Reyog, dapat pula disepadankan dengan penghargaan Islam terhadap posisi laki-laki dan perempuan yang semakin berkembang. Pada akhirnya, prinsip al-muhafadhah dan al-akhdz sekali lagi menemukan contoh aplikasinya di sini.

Kemudian, terkait dengan kekhawatiran “lahirnya” varian Islam yang beranekaragam akibat adanya Islam Nusantara, penulis berpijak pada pandangan bahwa sejatinya keragaman adalah fakta. Bahkan lebih dari itu, keragaman merupakan fitrah yang membawa rahmah dan berkah. Variasi Islam yang beragam sudah merupakan fakta yang dapat ditemui dengan mudah hari ini. Mereka tidaklah “lahir” ataupun “dilahirkan” secara seremonial, sebagaimana juga Islam Nusantara – yang bukan “lahir” atau “dilahirkan” dalam Muktamar NU 2015 di Jombang, melainkan sekedar “diteguhkan” saja. Variasi yang beragam tersebut tumbuh dengan sendirinya di tempat-tempat yang mempertemukan Islam dengan khalayak, menjadi sebuah model (pemahaman, pengalaman, dan pengamalan) keislaman. Di sinilah peran strategis NU (dan pengkaji kajian Islam Nusantara yang lain) dalam “melahirkan” dan mengkampanyekan Islam Nusantara sebagai model keislaman yang dianggap memiliki keistimewaan.

Sebagai sebuah model keislaman, tentunya Islam Nusantara tidaklah sendirian. Ia menjadi kolega, dan bahkan dapat pula sebagai kompetitor, bagi model keislaman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal lain. Terhadap hal ini, Zastrouw al-Ngatawi (2015), menyatakan bahwa sebenarnya Islam Nusantara tidak terbatasi oleh batasan-batasan geografis, karena ia dapat menjadi semacam “school of thought” dalam aspek apapun. Oleh karena itu, jika nantinya Islam Nusantara memancing “lahirnya” kampanye model keislaman yang lain, seperti Islam Arab, Islam Amerika, Islam Tiongkok, atau Islam Sontoloyo – seperti umpatan Bung Karno, bahkan Islam Erdogan ataupun Islam Pokemon sekalipun, tidaklah menjadi persoalan sepanjang ia tetap di dalam pakem: sistem nilai Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Wallahu a’lam.

*Ditulis oleh Dawam Multazam. Penulis adalah alumni PPM Islam Nusantara STAINU Jakarta.

0 Komentar Reyog, Islam Nusantara, dan “Lahirnya Islam ABC”

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top