Hikmah Terselubung

Seringkali kita jumpai, atau mungkin kita alami sendiri, seakan-akan Allah itu begitu kejam. Ada orang yang memiliki banyak anak, namun Allah malah memanggil ayah mereka saat mereka masih kecil-kecil dan begitu membutuhkan nafkah darinya. Juga peristiwa-peristiwa lain yang dalam kacamata manusia hal itu dipandang menyakitkan, bencana, menyedihkan. Namun dibalik semua itu, ada satu prinsip yang harus kita pahami, bahwa "Allah only wants the best for us, but little do we understand", Sesungguhnya Allah hanya ingin yang terbaik untuk kita, tetapi sedikit sekali di antara kita yg memahaminya.

Allah memiliki seribu satu jalan untuk mengangkat derajat hambaNya di sisinya. Terkadang, jalan yang dipilih Allah itu terkesan nyleneh dan jauh dari kemampuan orang awam untuk memahami maksud dan tujuannya.

Kita bisa saja dengan mudah berkata bahwa setiap peristiwa atau musibah itu ada hikmahnya, namun pada kenyataannya kita masih sering berprasangka yang tidak baik kepada Tuhan. Padahal Allah mustahil berbuat aniaya terhadap hambanya.

Banyak dari kita yang tidak sabar untuk menanti pertolongan Allah sembari terus berprasangka baik kepadaNya. Ibarat seperti orang yang menghadiri suatu undangan acara resepsi pengantin, yang tidak sabar duduk menanti datangnya suguhan makanan dari tuan rumah. Padahal bila mau bersabar sebentar lagi, ia akan mendapatkan jatahnya.

Ada hikmah terselubung yang wajib terus kita gali dan kita ambil pelajaran darinya dari setiap peristiwa yang kita alami, entah itu yang menyenangkan atau pun menyedihkan. Ketika Anda berbagi masalah Anda dengan orang yang mereka tidak dapat membantu Anda, mereka hanya akan menunjukkan simpati atau sekedar mendengarkannya saja. Namun bila kita berbagi dan mengadu kepada Allah, maka insyaAllah Dia akan memberikan jalan penyelesaian yang terbaik.

Tuhan memberikan kita masalah karena Dia mencintai kita, agar dengan masalah tersebut kita menjadi lebih dekat dengannya, hanya meminta kepadanya, dan Dia akan menjawabnya dengan solusi untuk semua masalah kita.

0 Komentar Hikmah Terselubung

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top