Rabu, 04 Mei 2016

Refleksi Atas Tragedi UMSU

Kabar duka kembali di dunia pendidikan kita. Kali ini, kasusnya adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa terhadap dosennya sendiri. Adalah Nur Ain Lubis, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidik (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang harus kehilangan nyawa di tangan mahasiswanya sendiri yang bernama Roymardo Sah Siregar pada Senin (2/5/2016) sekitar pukul 15.00 WIB dengan beberapa tusukan di lehernya.

Peristiwa seperti itu sungguh memiriskan dan mencoreng dunia pendidikan kita. Seseorang yang telah berjasa memberikan ilmu dan pengetahuannya, malah dibalas dengan hal buruk seperti itu. Ibarat peribahasa air susu dibalas dengan air tuba.

Dosen UMSU (kiri) via kompas.com
 Dari informasi yang saya baca di beberapa media, pembunuhan itu dilakukan karena kekesalan dan emosi si mahasiswa telah mencapai puncaknya. Gara-gara sering dihukum dan dimarahi waktu kuliah, si mahasiswa merasa tidak terima dan menyimpan dendam kepada dosen tersebut. Puncaknya, si mahasiswa melakukan aksi pembunuhan terhadap dosen itu.

Ada banyak sisi yang bisa kita gunakan untuk melihat, mengapa hal ini sampai terjadi. Apabila ditinjau dari sisi psikologis, boleh dibilang kalau mahasiswa itu belum dewasa, atau mungkin memang termasuk orang yang sensitif. Kedisiplinan, yang sebenarnya ingin diterapkan oleh si dosen kepadanya dengan tujuan yang positif, malah direspon dengan rasa kesal dan jengkel. Tidak hanya itu, peringatan si dosen kepadanya bahwa apabila ia tidak mau mengubah sikap dan perilakunya, maka ia terancam tidak lulus mata kuliahnya, juga menjadi salah satu motif pelaku untuk membunuh korban.

Ini menjadi pelajaran, sekaligus peringatan bagi kita sebagai mahasiswa dan para dosen. Dunia kampus adalah dunia yang sangat heterogen. Tidak semua mahasiswa berlatar belakang dan berkarakter sama. Tidak hanya di kampus umum, tapi juga kampus yang berbasis keislaman seperti STAIN, IAIN, dan UIN.

Dengan kondisi usia yang masih muda dengan jiwa yang penuh gejolak, proses pembelajaran yang digunakan pun tentunya berbeda dengan usia anak sekolah. Dan sebagai mahasiswa, memang kita belajar untuk bertanggung jawab. Berani memutuskan untuk menjadi mahasiswa sudah seharusnya siap dengan segala tuntutan dan konsekuensi yang ada.

Kita hidup dan mengenyam pendidikan di tanah yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan kemanusiaan. Pun pula dalam proses belajar mengajar, antara pendidik dan peserta didik, masing-masing harus tau hak dan kewajibannya demi mencapai tujuan yang diharapkan agar dapat dicapai secara optimal.

Dari peristiwa ini, tak perlu kita mencari siapa yang lebih pantas untuk disalahkan. Yang perlu kita lakukan adalah memetik hikmah dan pelajaran serta berupaya bagaimana agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Sebagai seorang pendidik, kita tidak boleh seenaknya main ancam dan marah-marah kepada peserta didik ketika ada sesuatu darinya yang kita rasa salah dan butuh perbaikan. Memang hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Jadi pendidik itu memang berat. Tidak hanya bermodalkan pintar saja, tapi juga ketekunan, kesabaran, dan kepekaan terhadap masing-masing peserta didik.

Dosen yang menjadi korban pembunuhan itu memang terkenal sebagai dosen yang cukup disiplin. Dan sebenarnya, di kampus mana pun saya yakin ada tipe dosen seperti beliau. Sialnya, dosen yang menerapkan disiplin tinggi memang justru biasanya tidak disukai para mahasiswa. Jelas, mahasiswa pada umumnya beranggapan bahwa kuliah tidak seharusnya lagi disamakan dengan sekolah yang harus serba disiplin, mulai dari disiplin waktu sampai dengan cara berpakaian.

Beruntung bila mahasiswa masih diberi pilihan untuk memilih dosen lain sekiranya ada dosen yang dirasa menyulitkan dan tidak cocok bagi mereka. Tapi kalau tidak ada pilihan lain bagaimana? Yah, memang sudah nasibnya,hahaha Harus diterima dengan lapang dada.

Sesebel dan sejengkel apa pun kita sama dosen, jangan sampai melakukan kekerasan, bahkan sampai pembunuhan seperti yang dilakukan oleh mahasiswa UMSU itu. Bagaimanapun juga, yang namanya belajar itu banyak tantangan dan rintangannya.

Memang sayangnya, aspek spiritual dan emosional seolah tak lagi tersentuh ketika sudah berada dalam dunia mahasiswa, dan yang menonjol adalah sisi ilmiah akademik dan intelektualitas. Kalaupun ada, porsinya sangat sedikit. Hal ini dipengaruhi pula oleh konsep pembelajaran yang dipakai dalam dunia perkuliahan yang notabene menggunakan konsep andragogi atau pendidikan orang dewasa.

Soal etika, moral, dan akhlak, dianggap sebagai bagian dari pengalaman di mana mahasiswa telah memiliki bekal yang cukup akan hal itu. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Sebab, mereka berasal dari latar belakang pendidikan, sosial, keluarga, dan kondisi ekonomi yang berbeda-beda yang ikut berkontribusi membentuk watak dan karakternya.

Terus, intinya apa? Saya sendiri juga bingung apa kesimpulannya.hahaha yang jelas, kita yang saat ini berperan sebagai siswa, mahasiswa, guru, dan juga dosen, harus mengambil peristiwa itu sebagai bahan refleksi agar peristiwa seperti itu tidak terulang kembali. Sebagai mahasiswa, kuliah itu bukan sekedar ijazah, gelar, atau hal-hal yang berhubungan dengan intelektualitas saja. Tapi, kita juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme baik yang diajarkan oleh agama maupun budaya. Begitu pula dengan dosen, tidak seharusnya berbuat sewenang-wenang terhadap mahasiswanya. Intinya, antara dosen dan mahasiswa harus terjalin simbiosis mutualisme yang darinya tercipta suasana pembelajaran dan jalinan emosional yang positif nan kondusif. wallahu a'lam...

0 Komentar Refleksi Atas Tragedi UMSU

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top