Kamis, 07 April 2016

Tips Memotivasi Anak Didik Agar Gemar Menulis

Seperti yang kita tahu, sejak masih ada di bangku sekolah dasar kita sudah disuruh untuk menceritakan pengalaman kita ketika liburan dengan menuliskannya dalam bentuk karangan singkat. Waktu saya masih SD dulu, tema yang nge-trend adalah “pergi ke rumah nenek”, entah waktu nenek punya rumah atau tidak, yang penting menulis saja tentang pengalaman pergi ke rumah nenek. Saya tidak tau, apakah tema yang dulu nge-trend itu sekarang juga masih nge-trend, atau sudah ganti tema yang super nge-trend.

Baca juga:
Di tingkat SMP dan SMA pun menulis tetap mendapat tempat, yaitu dalam mata pelajaran bahasa, baik itu bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dalam mata pelajaran bahasa Inggris, kegiatan menulis diistilahkan dengan “writing”. Kalau dalam mata pelajaran bahasa Indonesia istilahnya ya “menulis”. Jenis kegiatan menulis yang diberikan semakin beragam, tidak lagi sebatas mengarang cerita seperti yang dulu kita lakukan di SD. Tetapi, kita juga dituntut untuk menguasai cara-cara, konsep-konsep, serta toeri-teori menulis. Misalnya mampu mengidentifikasi jenis-jenis tulisan, jenis kata, penggunaan tanda baca, teknik-teknik pengembangan paragraf, dan lain sebagainya.


Dengan menguasai hal-hal di atas, selanjutnya diharapkan kita termotivasi dan mau untuk mengaplikasikannya dengan mulai menulis. Guru yang mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya, harus bisa memotivasi para peserta didiknya untuk terus berkarya dengan menulis. Idealnya, guru tersebut seharusnya juga sering menulis, baik di media online maupun media cetak. Akan lebih baik jika para peserta didik diberi kesempatan untuk membaca dan mengomentari tulisan-tulisannya. Alhasil, dengan peran guru sebagai contoh dalam aktifitas menulis, diharapkan para peserta didiknya akan termotivasi dan bersemangat untuk belajar menulis.

Namun sayang sekali, sepertinya menulis belum menjadi budaya di kalangan para guru. Hal ini menjadi keprihatinan kita bersama sebagai generasi muda penerus bangsa. Alangkah lucunya seorang guru yang mengajarkan mata pelajaran tentang menulis tidak bisa menulis. Apakah ada? Saya yakin masih ada, meskipun mungkin tidak banyak. Meskipun seorang guru 100% menguasai semua teori menulis mulai dari A sampai kembali ke A lagi, akan tetapi dia selalu malas untuk menulis, saya jamin dia tidak akan pernah menghasilkan sebuah tulisan yang berkualitas. Karena kemampuan menulis adalah salah satu kegiatan produktif yang membutuhkan proses dan latihan menghasilkan produk berupa tulisan yang baik dan benar.

Maka dari itu bagi yang saat ini berprofesi sebagai guru, atau masih berstatus mahasiswa calon guru, hendaknya keterampilan menulis menjadi hal penting yang perlu diprioritaskan. Bukan sekedar gelar, sertifikasi, atau gaji saja yang diprioritaskan.

Sama seperti membaca, menulis merupakan sarana pengembangan diri. Dengan membaca, berarti kita mengkonsumsi atau menyerap ilmu pengetahuan, sedangkan menulis memproduksi ilmu pengetahuan yang baru, pemahaman baru, atau teori-teori baru dari hasil pemikiran kita yang termanifestasikan ke dalam bentuk tulisan yang sistematis. Manfaatnya tidak hanya untuk diri kita sendiri, namun juga untuk orang lain, termasuk para peserta didik. Ini tidak hanya berlaku bagi guru atau mahasiswa calon guru bahasa dan sastra saja, namun berlaku bagi setiap guru dan mahasiswa calon guru dengan berbagai konsentrasi bidang keilmuan yang mereka pilih. Karena tulisan anda adalah pahatan-pahatan cahaya yang akan menjadi pencerah bagi jiwa dan pikiran generasi masa depan.

0 Komentar Tips Memotivasi Anak Didik Agar Gemar Menulis

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top