Jumat, 08 April 2016

Mendekati Allah Lewat Ibadah Sunnah

Dalam konsepsi pendidikan islam, pada hakikatnya tujuan pendidikan ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Untuk mencapainya, seorang pelajar (murid) membutuhkan bimbingan dari seorang guru sebagai wasilah yang mengajarkan ilmu-ilmu yang merupakan alat untuk mengenal dan mendekatkan diri dengan-Nya. Dengan ilmu, seseorang dapat melaksanakan ibadah-ibadah. Mengamalkan ilmu dengan cara beribadah kepadaNya merupakan sebuah pertanda bahwa ilmu itu bermanfaat. Selain ibadah wajib, ada banyak pula ibadah-ibadah sunnah. Hadis qudsi yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut menerangkan begini: "Selalu hamba-hambaku dapat melakukan pendekatan kepadaku dengan ibadah-ibadah sunnah (nawaafil) sampai aku mencintainya".

Pertanyaannya, mengapa harus nawaafil? Karena ibadah wajib [shalat, puasa, zakat, dan haji merupakan kewajiban murni yang harus dilaksanakan oleh setiap hamba. Karena kemestian, ibadah wajib ibarat modal pokok yang harus dipenuhi dalam berhubungan dengan Tuhan.


Jika ibadah wajib terbatas baik jumlah maupun caranya, ibadah sunnah tidak terbatas waktu, tempat dan bisa dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang. Oleh karena itu, ibadah sunnah dijadikan sebagai salah satu cara mendekatkan diri dan menggapai kecintaan Allah.

Jika Allah sudah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menjadi kekuatan potensial dan "sumber energi" pada diri hamba itu. Kekuatan Tuhan, rahmat Tuhan dan pengetahuan-Nya akan merasuki potensi manusia itu secara pribadi. Lanjutan hadis qudsi di atas memberikan informasi yang mengagumkan: ... "Apabila Aku telah mencintainya maka pendengaran-Ku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Pandangan-Ku juga akan merasuk ke dalam pandangannya yang ia gunakan untuk melihat. Pengetahuan-Ku mempengaruhi lisan yang ia gunakan untuk berbicara. Dan kekuatan (tangan-Ku) akan menjadi kekuatan potensial yang ia gunakan untuk melakukan kegiaatan".

Semua itu terjadi pada saat seorang hamba telah memasuki maqam "ahbabtu", dicintai oleh Allah. Pada level ini seorang hamba bukan saja merasa dekat dengan Tuhannya, tetapi juga mampu menembus sesuatu yang berada di "alam luar", alam malakut. Wallahu a'lam...

Ditulis oleh Ustad Ahmad Syafi'i SJ.

0 Komentar Mendekati Allah Lewat Ibadah Sunnah

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top