Pesan dan Nasehat Bijak Bapak Anies Baswedan untuk Mahasiswa

Menjadi seorang mahasiswa tidaklah semudah dan seindah yang kita bayangkan seperti yang sering ditampilkan di sinetron-sintron seperti FTV yang sering menayangkan perilaku mahasiswa yang serba enak dan berbau cinta-cintaan antar lawan jenis. Di kampus, kita tidak hanya bertemu dengan wanita-wanita cantik, berpapasan, kemudian tak sengaja menjatuhkan bukunya terus mau ngambil bareng tapi kepalanya saling kejedot lalu jadian. Tidak, sekali lagi tidak seindah itu. Dibalik status mahasiswa, ada tanggung jawab besar yang harus kita pikul yang berkaitan dengan diri kita sendiri, masyarakat, dan juga negara.

Salah satu pesan yang patut kita renungkan bersama sebagai mahasiswa Indonesia adalah pesan dari bapak Anies Baswedan, yang saat ini menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan menggantikan bapak M. Nuh.

Dalam pesannya kepada mahasiswa, bapak Anies Baswedan pertama-tama mengucapkan selamat kepada kita karena telah menyandang gelar ‘maha’ disamping status siswa. Secara otomatis, status kemahasiswaan kita memunculkan tanggungjawab yang lebih besar daripada anak-anak muda lain di negeri ini yang bukan mahasiswa.

Jika kita mampu kuliah, yang artinya mampu mengakses pendidikan lebih tinggi dari sebagian besar masyarakat yang tidak mampu melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi, maka itu berarti bahwa kita istimewa, kita berbeda dari kebanyakan orang. Kita merupakan golongan anak muda yang memiliki kesempatan sangat luas untuk mengembangkan seluruh potensi yang kita miliki. Tidak hanya untuk kemanfaatan diri sendiri, namun juga untuk masyarakat dan bangsa Indonesia pada umumnya.


Ketika telah menjadi mahasiswa, pola belajar kita tentu harus kita ubah. Tidak seperti ketika di SD, SMP, atau SMA yang sebagian besar waktu belajarnya dihabiskan bersama guru di kelas. Yang dimaksud kuliah tidak sebatas berada di dalam ruang kuliah kemudian duduk mendengarkan penyampaian materi-materi kuliah dari dosen. Akan tetapi, yang dimaksud dengan kuliah, kita juga belajar di luar kelas atau ruang kuliah.

Kalau memang kita layak disebut sebagai aktivis, maka tidak cukup jika hanya sebagai mahasiswa yang berperan aktif di luar ruang kuliah dengan mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan baik intern maupun ekstern. Akan tetapi kita juga harus menjadi aktivis di dalam ruang kuliah.

Kita termasuk mahasiswa yang rugi besar jika di masa kuliah kita hanya mengandalkan proses belajar mengajar di dalam kelas saja. Percayalah, ilmu dan wawasan yang kita dapatkan dalam kelas selama perkuliahan tidaklah seberapa. Bahkan bisa jadi anda tidak mendapatkan apa-apa dari sana. Jika anda hanya belajar di kelas, maka kelak yang akan anda dapatkan di akhir masa kuliah anda hanya beberapa lembar kertas yang berisi transkrip nilai dan ijasah. Masa depan dan tantangan hidup yang harus kita hadapi setelah lulus tidak akan terselesaikan cukup dengan beberapa lembar kertas tersebut. kita tidak bisa membangun masa depan dengan kertas-kertas itu.

Tugas utama mahasiswa adalah belajar dan belajar. Masa-masa ketika menjadi mahasiswa adalah masa emas dengan kesempatan yang sangat luas untuk belajar. Semangat jiwa muda yang tertanam dalam diri mahasiswa harus dioptimalkan semaksimal mungkin guna mencetak generasi muda penerus bangsa yang dari kata dan tindakannya mampu membawa perubahan bangsa menjadi lebih baik ke depannya.

Bapak Anies Baswedan menganalogikan hidup setelah lulus kuliah atau pasca menjadi mahasiswa itu ibarat orang yang belajar berenang di lautan. Mumpung masih mahasiswa, kita masih punya pilihan, apakah akan belajar berenang setelah sampai di laut ataukah belajar berenang dulu di kolam renang? Jika kita belajar berenang di kolam renang, maka tingkat kedalaman kolam, tekanannya, suhunya, dan arusnya terukur. Kita bisa lebih aman saat belajar.

Namun jika kita belajar berenang langsung di laut, maka resikonya sangat besar, berbeda jauh dengan belajar berenang di kolam renang. Sebab di kolam renang segala sesuatunya terukur dan terkontrol. Oleh karenanya, belajarlah dengan sungguh-sungguh ketika masih mahasiswa. Kampus ibarat kolam renang untuk belajar. Maka yang harus dilakukan adalah belajar berenang dengan sebaik-baiknya agar nanti jika sudah sampai di lautan kita tidak menanggung resiko yang terlalu besar.

Sejak kuliah, belajarlah untuk memimpin dan berkontribusi positif untuk masyarakat. Mahasiswa yang aktif di luar kelas terbukti menjadi orang-orang yang berpengaruh dan menciptakan kemajuan bagi bangsa dan negara. Itulah mengapa bapak Anies sangat menekankan kepada para mahasiswa untuk aktif di luar kelas.

Ada tiga hal yang akan mengantarkan kita ke masa depan, yaitu kemampuan untuk memimpin (leadership), kemampuan berkomunikasi, dan daya analisis yang tajam. Untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, semisal dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA, dan dari SMA ke perguruan tinggi, yang kita butuhkan memang NILAI. Akan tetapi setelah itu, setelah kita lulus dari perguruang tinggi, dibutuhkan lebih dari sekedar nilai.

Perjalanan hidup kita ke depan setelah lulus sebagai mahasiswa, membutuhkan bekal lebih dari sekedar IP tinggi. Bukannya IP yang tinggi dan materi kuliah di dalam kelas itu tidak penting. Semuanya penting. Hanya saja, kita harus punya double track (jalur ganda). Artinya, selain IP tinggi, kita juga memiliki pengalaman yang matang dalam hal kepemimpinan. Keduanya harus dibangun secara seimbang.

Demikianlah pesan dan nasehat bijak bapak Anies Baswedan untuk para mahasiswa. Semoga menjadi bahan refleksi dan motivasi agar lebih semangat dan optimis dalam menyiapkan diri menjadi pemimpin dan intelaktual yang mampu membawa bangsa Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Baca juga:
Wikipendidikan
Back To Top