Peran Keluarga dalam Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter

Krisis karakter yang menimpa bangsa kita sudah bersifat struktural, mulai struktur yang paling kecil hingga yang paling besar. Berangkat dari situ, maka internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter harus dilakukan secara struktural, holistik, dan kontekstual. Dalam rangka mewujudkan upaya membangun karakter bangsa, pembangunan itu dimulai dari lingkup keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Nilai-nilai pokok pendidikan karakter harus diinternalisasikan ke semua lapisan masyarakat guna membentuk kekuatan karakter bangsa, sehingga nantinya akan terbentuk manusia-manusia Indonesia yang berkarakter pada semua lapisan kehidupan. Internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter tidak harus di sekolah formal, namun keluarga dan negara juga memiliki peran dan tanggung jawab dalam menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan karakter sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Tentang apa saja nilai-nilai pendidikan karakter bisa anda baca di artikel kami berjudul Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter.


Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh dan berkembang di lingkungan, terutama lingkungan keluarga yang juga berkarakter. Kondisi seperti ini sangat kondusif bagi aktualisasi fitrah anak secara maksimal. Krisis karakter yang melanda bangsa ini merupakan cermin dari kegagalan dan buruknya pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga sebagai dasar dari pendidikan karakter itu sendiri.

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang merupakan tempat di mana manusia untuk pertama kalinya belajar tentang konsep baik-buruk, benar-salah, pantar-tidak pantas. Dari keluargalah seseorang pertama kali belajar tentang nilai-nilai pendidikan karakter.

Proses pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga agar anak menjadi pribadi yang berkarakter sejak dini. Karakter seseorang merupakan cerminan dari nilai-nilai yang telah tertanam kuat dalam dirinya.

Baca juga Belajar Pendidikan Karakter dari 'Dinding Kebaikan' di China

Pendidikan karakter yang mulai dibangun sejak dari lingkup keluarga, akan menentukan seberapa jauh tingkat kedewasaan anak, memegang teguh nilai-nilai seperti kejujuran, tanggungjawab, sederhana, toleransi, serta menghargai perbedaan. Dalam keluarga pula seseorang mulai mengenal dan membangun konsep awal tentang makna kesuksesan atau keberhasilan dalam hidup. Singkat kata, keluarga berperan penting dalam mengkonstruksi pandangan seseorang tentang masa depan.

Menurut Philips, keluarga hendaknya menjadi school of love atau tempat belajar yang penuh cinta dan kasih sayang. Menurut gunadi, ada tiga peran utama yang dilakukan oleh orang tua dalam rangka mengembangkan karakter anak, yaitu:
  1. Mencitpakan suasana yang hangat dan tenteram dalam keluarga. Tanpa suasana yang kondusif, maka anak akan sulit untuk belajar dan pertumbuhan jiwanya pun akan terhembat. Apabila dalam keluarga dipenuhi dengan ketakutan dan ketegangan, keluarga tak lebih dari wadah yang buruk untuk perkembangan karakter anak.
  2. Orang tua menjadikan dirinya sebagai sosok teladan bagi si anak. Anak akan lebih banyak belajar dari apa yang dia lihat. Karakter teladan dari orang tua yang secara langsung diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari adalah nilai-nilai pendidikan karakter yang akan diserap oleh anak.
  3. Selain mendemonstrasikan karakter kepada anak, orang tua juga harus aktif mendidik anak karakter yang baik dan menanamkan disiplin diri agar nilai-nilai karakter yang ditanamkan berhasil dengan baik.
Dari uraian di atas, dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang menjadi dasar bagi penanaman nilai-nilai pendidikan karakter kepada manusia (anak). Penanaman karakter yang baik secara intens kepada anak melalui keluarga sedini mungkin, akan membentuk anak menjadi pribadi yang dewasa dan berkarakter mulia yang menjadi generasi harapan bangsa. Oleh karena itu, mari kita membudayakan pendidikan karakter dalam keluarga kita, dari sekarang!

Wikipendidikan
Back To Top