Kamis, 31 Maret 2016

Menelusuri Akar Sejarah Pendidikan Karakter di Indonesia

Ditinjau dari sisi historisnya, penggunaan istilah karakter secara spesifik dalam pendidikan muncul sejak akhir abad ke-18. Orang yang pertama kali mencetuskannya adalah F.W. Foerster, seorang tokoh asal Jerman. Istilah karakter mengacu pada pendekatan idealis spiritual dalam konteks pendidikan. Penggunaan istilah karakter dalam konteks pendidikan ini menitikberatkan pada nilai-nilai transeden yang diyakini sebagai motor yang menggerakan sejarah, baik dalam konteks individu maupun sosial. Akan tetapi, sebetulnya pendidikan karakter merupakan esensi sejarah pendidikan itu sendiri.

Lahirnya istilah pendidikan karakter sebenarnya merupakan sebuah upaya untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang selama ini tenggelam dihantam badai positivisme yang diusung ke permukaan oleh filsuf asal Perancis Auguste comte. Inilah yang menjadi kegelisahan Foerster, sehingga ia secara tegas menolak gagasan Comte yang mereduksi pengalaman manusia hanya terbatas pada hidup yang harus serba ilmiah.

Dalam konteks sejarah pendidikan di Indonesiaan, pentingnya pendidikan karakter sebagai pembangun generasi bangsa unggul telah muncul sejak diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno. Beliau telah menyatakan penting dan perlunya pembangunan karakter sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gerakan pembangunan bangsa Indonesia. Beliau menyadari penuh bahwa karakter suatu bangsa yang kuat sangat berkontribusi dalam mencapai tingkat keberhasilan dan kemajuan bangsa.

Namun demikian, kondisi bangsa kita dan negara-negara di dunia di era globalisasi ini sungguh sangat memprihatinkan. Nilai-nilai luhur bangsa yang memuat etika, akhlak, atau budi pekerti yang merupakan warisan dari nenek moyang, terkikis oleh kuatnya ombak modernisasi dan dominasi arus globalisasi yang serba pragmatis nan hedonis.

Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang dijiwai oleh nilai-nilai agama dan diwariskan melalui budaya para ulama dan pendiri bangsa, kemudian dituangkan ke dalam dasar negara yang disebut Pancasila. Namun tampaknya, ruh Pancasila nampaknya kurang membekas dalam kepribadian para generasi bangsa.

Sudah terlalu lama bangsa kita meyakini bahwa kecerdasan intelektual adalah segala-galanya dalam dalam menentukan kesuksesan hidup dalam segala bidang. Baru beberapa tahun ini bangsa kita mulai mempertanyakan keyakian tersebut, terlebih setelah adanya pendapat baru yang menyatakan bahwa kecerdasan kognitif atau kecerdasan intelektual saja tidaklah cukup berkontribusi terhadap keberhasilan seseorang baik dalam konteks pendidikan atau pengembangan kualitas hidup.

Pendapat baru ini juga dikuatkan oleh beberapa penelitian yang membuktikan bahwa kecerdasan intelektual hanya berkontribusi 20% s/d 45% dari keberhasilan pendidikan, sebagaimana yang ditulis oleh Hera Lestari Mikarsa dkk. dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Anak di SD”.

Lebih lanjut, dalam buku yang sama Hera juga mengutip hasil penelitian yang dilakukan Arnold terhadap juara kelas yang berasal dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi, yang ternyata membuktikan bahwa mereka memang rajin belajar dan tau bagaimana caranya untuk menjadi berprestasi secara akademis, akan tetapi sungguh sayang predikat juara yang mereka sandang ternyata tidak berkontribusi apapun terhadap cara mereka menyikapi atau merespon kesulitan hidup yang mereka hadapi.

Dari situlah kemudian muncul istilah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient yang dipercaya dapat dijadikan sebagai tumpuan harapan dalam meraih keberhasilan dalam hidup seseorang.

Pemerintah telah mulai menyadari akan pentingnya pembangunan karakter/budi pekerti bangsa. Saat ini, pemerintah mulai memprioritaskan pembangunan karakter bangsa sebagai bagian dari fokus utama pembangunan nasional. Hal itu dibuktikan dengan UU No. 17 Tahun 2007 yang berisi tentang RPJPN 2005-2025, serta inpres Republik Indonesia No. 1 Tahun 2010 yang berkaitan dengan Pencepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Dua landasan di atas membuktikan bahwa pemerintah mulai serius membangun karakter/budi pekerti bangsa.

Selain itu, implementasi kurikulum 2013 berbasis karakter juga salah satu wujud dari kesadaran pemerintah akan urgensi pendidikan karakter bangsa. (Sumber gambar: Fanspage Indonesia Mengajar)

0 Komentar Menelusuri Akar Sejarah Pendidikan Karakter di Indonesia

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top