Senin, 07 Maret 2016

Menanamkan Kesalehan Sosial pada Peserta Didik

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Kedermawanan adalah pohon yang kokoh di surga. Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang dermawan. Kebakhilan adalah pohon Neraka. Tidak akan masuk Neraka kecuali karena kebakhilannya.”
Pohon Neraka, sebagaimana dalam hadits di atas, tidak seharusnya tumbuh subur dalam diri setiap insan, khususnya mereka yang memiliki harta yang berlimpah atau para elit ekonomi. Apalagi para pejabat di daerah yang memahami kondisi riil penderitaan masyarakat. Apabila pohon neraka ini sampai tumbuh subur menguasai elit kekuasaan, maka berapa pun banyaknya anggaran (keuangan) daerah tidak akan mempu membebaskan masyarakat dari penderitaan, apalagi memanusiakan dan menyejahterakannya, karena mereka cenderung lebih menempatkan keuangan daerah sebatas untuk memperkaya diri, kroni, dan partainya, atau hanya digunakan untuk menopang kegiatan-kegiatan yang jauh dari kebutuhan riil masyarakat.

Akan sangat baik apabila dalam konteks pendidikan, guru bisa mengedukasi anak didiknya untuk menebang pohon neraka ini dan melibatkan anak didik dengan aktifitas-aktifitas sederhana yang merupakan bentuk dari pembebasan atau peringanan kesulitan yang dihadapi masyarakat. Hal semacam ini sangat penting karena aktivitas pembebasan kesulitan sesama merupakan wujud kesalehan sosial kemanusiaan yang bernilai tinggi bukan hanya di mata manusia, namun juga dalam pandangan Tuhan.


Upaya sekolah melibatkan anak didiknya dalam membantu saudara-saudaranya yang tertimpa bencana atau terkena musibah, dapat dikategorikan sebagai upaya mendidik mereka agar memiliki kemuliaan dalam mengonstruksi dan membumikan akhlak kemanusiaannya. Upaya demikian akan menjadi semakin baik, apabila diteruskan dengan cara menjadikan kegiatan pengabdian ini sebagai bagian dari gerakan moral pemberdayaan terhadap masyarakat yang kehilangan keberdayaan.

Dalam sebuah hadits dikisahkan ada seseorang mendapatkan kebahagiaan di akhirat lantaran seekor anjing. Dia memberi air untuk anjing yang sedang kehausan dan sekarat, karena tak mendapatkan air selama berhari-hari. Sementara dalam kisah lain diungkapkan, ada seorang wanita akan mendapatkan kehinaan di hari akhir karena dia membiarkan kucing peliharaannya tidak diberi makan dan minum. Kucing itu menemui ajalnya karena kelaparan.

Dari dua kisah ini Islam menekankan betapa pentingnya rasa peka atau sensitif terhadap hal-hal yang baik dan positif, baik dilakukan terhadap sesama kita, binatang, maupun alam. Jika kita telusuri, ternyata dengan sikap yang peka akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan, begitu juga sebaliknya, ketika hati seseorang tidak mudah trenyuh dengan kondisi yang ada di sekitarnya, dia akan mendapatkan kehinaan dari sikapnya yang kurang sensitif dan apatis itu.

Rasa peka terhadap binatang saja diapresiasi ole Allah SWT, apalagi kepekaan kita kepada sesama manusia. Tentu saja, apa yang kita lakukan akan menjadi sebuah ladang amal yang mendapat apresiasi setimpal dari Allah SWT. Oleh karena itu, apabila kita hayati, nilai sebuah kebaikan yang kita lakukan kepada siapa saja dan pada apa saja, serta dalam bentuk apa saja, tetap akan menjadi kebaikan.

Daftar Pustaka
Bashori Muchsin dkk., Pendidikan Islam Humanistik: Alternatif Pendidikan Pembebasan Anak (Bandung: Refika Aditama, 2010), 157-158.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top