Konsep Fitrah Manusia dalam Islam

Berbicara tentang fitrah manusia, pada dasarnya tidak lepas dari konsep tentang asal mula kejadian manusia itu sendiri. Mengetahui asal kejadiannya merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia. Hal ini dikarenakan pengetahuan tersebut merupakan titik tolak dalam menetapkan pandangan hidupnya. Manusia yang tidak memahami asal kejadiannya akan mengalami kesulitan dalam menentukan pandangan hidupnya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang konsep fitrah manusia dalam perspektif agama islam. Baca juga Hakikat Tujuan Hidup Manusia dalam Filosofi Sangkan Paraning Dumadi

Secara etimologis, fitrah berasal dari istilah arab “fathara” yang bersinonim dengan istilah “khalaqa” dan “ansyaa” yang memiliki arti mencipta. Di dalam Al-Quran, penggunaan tiga istilah ini menunjukkan makna atau pengertian menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada yang memerlukan penyempurnaan.

Istilah fitrah dalam Al-Quran terdapat dalam surat Ar-Rum ayat 30 yang artinya:
“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ”
Secara umum, para pemikir muslim cenderung memaknai fitrah sebagai potensi manusia untuk beragama tauhid. Al-Jarkasyi memakanai fitrah sebagai iman bawaan yang telah diberikan Allah sejak manusia masih berada dalam rahim. Sebab dalam pandangan islam, manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan suci, di mana selanjutnya kesucian ini dikenal dengan istilah fitrah.

Sedangkan Muhammad bin Asyur, sebagaimana dikutip Quraish Shihab mendefinisikan fitrah sebagai berikut:
“Fitrah adalah bentuk lain dari sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Sedangkan fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan kemampuan akal dan jasmaninya.”

Dalam hal ini, makna fitrah diartikan sebagai potensi jasmaniyah dan akal yang diberikan Allah kepada manusia di mana dengan potensi tersebut manusia mampu melaksanakan amanah yang dibebankan oleh Allah.

Fitrah berarti bersih tanpa dosa dan noda, baik dalam hal akal maupun nafsunya. Dengan kata lain, manusia yang fitrah adalah manusia yang masih bersih dari dosa. Dengan fitrah ini, manusia mampu mengembangkan kekuatan jiwanya untuk mengenal dan mengetahui Allah secara lebih dekat sebagai Tuhan yang telah menciptakannya.

Selain dengan peran kekuatan jiwanya, manusia juga dikaruniai akal sebagai alat untuk berpikir tentang segala makhluk ciptaan Tuhan, termasuk penciptaan diri manusia itu sendiri. Dengan akal, manusia bisa berpikir tentang baik dan buruk, entah itu untuk kepentingan dirinya sendiri maupun kepentingan orang lain atau lingkungannya. Dan dengan akal pula manusia mampu memilih mana yang terbaik menurutnya.

Manusia dilahirkan dengan membawa naluri fitrah dari Tuhan, akan tetapi seiring perkembangannya, fitrah tersebut bisa terpengaruh oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Dalam perjalanan hidupnya, jiwa dan akal manusia memiliki kemauan yang berubah-ubah. Maksudnya, fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah ketika manusia dilahirkan ke dunia yang fana ini bisa goyah atau terkdang dikalahkan oleh nafsu dan godaan setan yang seringkali membuat manusia melanggar perintah Allah dan justru melakukan apa yang dilarang oleh-Nya.

Berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi fitrah manusia menjadikannya memiliki kecenderungan untuk berubah sesuai dengan pengaruh tersebut. Dengan kata lain, fitrah dalam diri manusia itu tidak bersifat netral terhadap berbagai pengaruh eksternal. Dalam proses perkembangannya, terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara fitrah manusia dengan lingkungan sebagai faktor eksternal.

Allah menjadikan dalam diri setiap manusia memiliki fitrah untuk beragama Tauhid. Apabila ada manusia yang beragama, akan tetapi bukan agama Tauhid, maka dalam hal ini telah terjadi ketidakwajaran atau seperti yang diuraikan di atas tadi bahwa orang tersebut lebih cenderung sejalan dengan faktor lingkungan yang mempengaruhinya untuk beragama tidak sesuai dengan fitrah Tuhan yang telah ditetapkan untuknya.

Konsep fitrah dalam Islam adalah mempercayai bahwa secara alamiah manusia itu positif (baik), baik dalam hal jasmaniyah maupun ruhaniah. Berkembang atau tidaknya fitrah manusia tergantung pada dua faktor, yaitu usaha manusia itu sendiri dan hidayah dari Allah SWT. Iman kepada Allah merupakan fitrah yang terdapat dalam jiwa manusia. Fitrah ini harus dikembangkan dan diaktualisasikan agar manusia menjadi Insan Kamil. Sebagaimana yang disebutkan oleh M. Natsir bahwa pengembangan fitrah manusia merupakan salah satu tugas yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW.

Daftar Rujukan

• Achmadi. 2008. Ideologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
• Basri, Hasan. 2010. Ilmu Pendidikan Islam Jilid 2. Bandung: Pustaka Setia
• Saebani, Beni Ahmad. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
• M. Arifin. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
• Ahmad Tafsir. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Temprint
• Abd. Aziz. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras
Wikipendidikan
Back To Top