Jumat, 04 Maret 2016

Ketika Guru adalah Profesi, Salahkah?

Suatu sore, saya masuk kuliah jam ke 4 dan 5, sejak pukul 13.00 wib sampai 16 wib. Karena belum terbiasa masuk kuliah sore, rasanya males banget. Cuaca yang panas dan kantuk berat membuat suasana perkuliahan tidak kondusif. Rasa haus dan lapar pun tak mau ketinggalan datang memecah kenyamanan.

Setelah perkuliahan selesai, saya shalat ashar sebentar di masjid kampus. Setelah itu ngopi di warung kopi favorit milik teman yang lokasinya tak jauh dari kampus. Selain lokasinya yang enak dan strategis, rasa kopinya pun tak kalah nikmatnya.
Temanku yang punya kedai kopi itu dulunya sekelas sama saya waktu di Aliyah. Setelah kami lulus, dia istirahat satu tahun baru kemudian masuk kuliah jurusan PGMI di kampus yang sama dengan saya.

Sambil asyik nyruput secangkir kopi, kami ngobrol panjang lebar. Karena kami kuliah di jurusan yang sama, yaitu pendidikan, saya iseng tanya-tanya pendapat dia soal profesi guru. Kenapa sampai sekarang dia belum berminat untuk melamar kerja jadi guru atau paling tidak nyambi ngajar, padahal dia sudah lulus.

Lalu apa jawabannya? Dia mengatakan, "jadikanlah mengajar itu sebagai sebuah ibadah, bukan pekerjaan yang harus digaji." Dia belum ingin melamar menjadi seorang guru karena merasa belum mapan secara ekonomi. Ketika sisi ekonominya belum mapan, dia khawatir malah menggantungkan hidupnya kepada lembaga tempat dia mengajar. Padahal dia punya prinsip bahwa mengajar itu harus berlandaskan keikhlasan, bukan karena ingin dapat bayaran. Kalaupun digaji, itu bonus saja.

Saya mengamini pendapatnya. Kita lihat saja realita saat ini bagaimana sulitnya mencari uang. Bukan tidak percaya akan jaminan Tuhan atas jatah rezeki yang disediakan untuk setiap hamba-Nya. Namun untuk menghindari, minimal meminimalisir ketergantungan akan kebutuhan hidup sehari-hari dari aktifitas mengajar. Rasanya tidak salah kalau lebih memprioritaskan untuk mencukupi kebutuhan finansial terlebih dahulu sebelum terjun di dunia pengajaran.

Semenjak guru dipandang sebagai bagian dari profesi, perspektif tentang Guru mulai bergeser. Kewajiban mengajar yang dilakukan lebih berorientasi pada gaji. Memang hal itu tidaklah salah, akan tetapi alangkah lebih baik jika menjadi guru itu diniati semata-mata untuk mengamalkan ilmu yang dititipkan Tuhan sebagai bagian dari kewajiban seorang yang berilmu. Di samping itu, guru adalah sosok teladan bagi siswa dan masyarakat yang memiliki kompetensi khusus dalam bidang pendidikan, yang sudah seharusnya digunakan dalam mendidik dan mengajar para generasi penerus bangsa.

Anak didik merupakan generasi yang akan meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa ini di masa yang akan datang. Jadi sudah seharusnya seorang guru mengajar dan mendidik mereka dengan niat yang lurus dan mulia. Bukan hanya mementingkan upah materiil yang sifatnya hanya sementara saja.

Terkadang saya juga dilema melihat aksi para guru honorer beberapa waktu lalu yang menuntut pemerintah agar mengangkat mereka menjadi PNS. Menurut saya, hal itu sebetulnya kurang pantas dilakukan oleh seorang guru. Namun di sisi lain, kesulitan dalam hal ekonomi dan rendahnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan yang non-PNS dan belum sertifikasi juga hal yang perlu dipertimbangkan.

Ditetapkannya guru sebagai sebuah profesi adalah karena memang ada berbagai kompetensi dan keterampilan khusus yang harus dikuasai. Singkatnya, menjadi seorang guru itu membutuhkan keterampilan khusus yang didapatkan melalui teori-teori dan konsep-konsep yang didapatkan di bangku perkuliahan atau yang lainnya.

Aktifitas guru tidak lepas dari yang namanya mengajar. Sedangkan mengajar itu ada seni, metode, teknik, dan strateginya tersendiri. Itulah mengapa saat ini istilah ‘guru’ boleh dikatakan telah mengalami penyempitan makna semenjak guru dijadikan sebagai sebuah profesi.

Idealnya, guru adalah bisa menjadi teladan yang baik bagi anak didik serta masyarakat di lingkungannya. Namun saat ini, banyak guru yang notebene sudah disertifikasi dan diberi subsisi oleh pemerintah malah semakin sedikit dari mereka yang bisa diteladani. Akibat krisi keteladanan ini, tidak heran pula jika sampai saat ini budaya ketidakjujuran dalam ujian masih menjamur di kalangan pelajar.

Terkadang, gaji dan uang sertifikasi yang telah didapat justru malah melenakan guru dari tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengajar dan pendidik yang harus bekerja keras mencetak generasi-generasi bangsa yang cerdas secara intelektual, bermoral, dan berakhlakul karimah. Untuk itulah guru harus mensetting dirinya sendiri menjadi insan yang pantas untuk diteladani oleh siswa-siswinya.

Hal tersebut di atas merupakan indikasi dari krisis keteladanan, baik dalam lingkup keluarga, sekolah, serta masyarakat luas. Banyak dari kita yang hanya bisa berkata tapi tidak bisa melakukan apa yang kita katakan.

Memang seharusnya seorang guru tidak lemah secara finansial dan moral. Kondisi finansial yang serba kekurangan biasanya (tidak selalu) berpengaruh pada profesionalismenya dalam mengajar menjadi berkurang, sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Guru juga harus benar-benar memiliki karakter yang patut diteladani oleh siswa-siswinya. Menjadi guru yang berkarakter bukan hanya kewajiban guru agama, namun juga kewajiban semua guru. Jika hal ini disadari dan dilaksanakan, insyaallah upaya pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan akan berjalan dengan optimal.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top