Membangun Pendidikan Karakter Anak Berbasis Keteladanan

Pada prinsipnya, salah satu kunci kesuksesan Pendidikan Karakter terletak pada pemberian teladan oleh guru yang berkarakter kepada anak didiknya. Dengan kata lain, guru harus lebih dulu berkarakter, sebelum mereka mendidik peserta didiknya dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Kalau gurunya saja tidak berkarakter, bagaiaman bisa mereka mau mengkarakterkan anak didiknya? "Anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Orangtua, guru, dan masyarakat berperan penting terhadap pola tingkah perilaku anak. Bukankah mereka adalah peniru yang ulung? Itulah kenapa orang dewasa penting sekali memberikan contoh positif terhadap anak. Mengubah anak dan memberikan contoh mudah saja. Yang tersulit adalah mempertahankannya. Konsisten terhadap apa yang dilakukan. Hingga menjadi sebuah kebiasaan. Masih ingat akan pesan seorang kakak terhadapku. Ia bilang menjadi seorang guru dibutuhkan sikap istiqomah. Istiqomah menjaga semangat setiap harinya. Istiqomah menebar senyum serta istiqomah terhadap apa yang kamu buat." Demikian tulis Neny Rahman, Pengajar Muda XI Kabupaten Aceh Utara di Fanspage Indonesia Mengajar.

Image Copyriht by Indonesia Mengajar FansPage
Saya sangat setuju dengan apa yang diungkapkan Ibu Neny di atas, bahwa faktor lingkunganlah yang paling dominan dalam membentuk pertumbuhan dan perkembangan pola pikir dan perilaku anak-anak sejak ini. Lingkungan yang dimaksud bukan hanya lingkungan dalam arti tetangga sekitar. Namun lingkungan yang dalam bahasa Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Tri Pusat Pendidikan, yaitu meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Nilai-nilai karakter juga harus dikontekstualisasikan dengan kearifan lokal (local wisdom). Baca juga Belajar Pendidikan Karakter dari 'Dinding Kebaikan' di China

Cara belajar pada usia anak-anak ialah dengan meniru. Mereka meniru perbuatan dan perkataan dari orang-orang yang dilihatnya. Oleh karena itu, baik keluarga, guru, dan masyarakat harus memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak agar kelak mereka tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dewasa yang memegang teguh karakter-karakter positif dalam dirinya. Dalam catatan sejarah pendidikan islam, Rasulullah SAW. pun menggunakan pendekatan keteladanan yang terwujud dalam akhlak beliau sehari-hari, sehingga rasulullah saw. menjadi sosok teladan yang karakternya diteladani oleh para sahabat beliau. Baca juga Menelusuri Akar Sejarah Pendidikan Karakter di Indonesia

Kebaikan dalam bentuk apa pun, yang namanya istiqomah memang hal yang paling sulit dilakukan. Kondisi psikis dan fisik manusia yang serba naik turun, membutuhkan amunisi semangat yang sangat besar agar dapat istiqomah dalam kebaikan meski apa pun kondisinya. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mampu istiqomah memberikan teladan kepada para peserta didiknya tentang nilai-nilai pendidikan karakter yang tercermin dalam tindakan nyata mereka sehari-hari, baik di sekolah maupun masyarakat. Pelajari Pentingnya peran Keluarga dalam Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter pada Anak

Sejauh pengalaman yang pernah saya rasakan, istiqomah mengajar memang sangat sulit. Apalagi jika kita mengajar anak-anak yang notabene tidak bisa diatur dan berbuat semaunya sendiri. Rasa malas, kesal, dan marah menyelimuti hati. Itulah mengapa diperlukan kesabaran dan tekad yang besar agar dapat istiqomah mengajar. Yang lebih sulit lagi adalah mendidik anak agar memiliki berkarakter. Karena seorang pendidik dituntut untuk senantiasa selaras antara ucapan dan perbuatannya.

Tidak hanya istiqomah mengajar di dalam kelas, lebih sulit lagi istiqomah untuk membiasakan diri melakukan hal-hal positif agar dapat menjadi teladan bagi anak-anak. Karena sebenarnya sebelum kita mengajarkan dan menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan karakter pada anak, kita harus terlebih dahulu menjadi sosok guru, orang tua, dan masyarakat yang berkarakter.

Pendekatan keteladanan, merupakan pendekatan yang paling tepat dalam membangun Pendidikan Karakter anak. Karakter itu tentang sesuatu yang sifatnya praktis dan prosedural. Selain mengajarkan anak pengetahuan teoritis tentang nilai-nilai karakter, yang lebih penting lagi adalah memberikan teladan pendidikan karakter pada anak sebagai wujud transformasi dari pengetahuan teoritis menuju serangkaian tindakan praktis dan prosedural.
Wikipendidikan
Back To Top