Catatan Pengalaman Menjadi Panitia Diklat Pelatihan Shalat Sempurna

Bagi umat islam, shalat merupakan salah satu ibadah wajib yang paling urgen. Setiap muslim yang telah mencapai usia baligh dan mukallaf wajib melaksanakan ibadah shalat. Tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat kecuali yang telah diatur oleh hukum syara’. Karena begitu pentingnya shalat, maka wajib bagi setiap muslim mengerti dan memahami ilmu tentang shalat. Meliputi thaharah, bacaan-bacaannya, gerakannya, syarat rukunnya, dan etikanya. Shalat merupakan ibadah yang pertama dihisab kelak di akhirat, di mana apabila shalatnya baik, maka dinilai baik amal ibadah yang lainnya, dan begitu pula sebaliknya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa shalat merupakan kunci utama yang menentukan kualitas amal-amal yang lain. Dalam konteks pendidikan, melaksanakan shalat merupakan salah satu nilai dari pendidikan karakter yang harus ditanamkan pada siswa, yaitu nilai religius yang berarti sikap dan tindakan taat dan patuh menjalankan kewajiban agama yang dianutnya.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 agustus 2015, MWC NU kecamatan Pulung yang dipandegani oleh bapak Ahmad Syafi’i mengadakan pelatihan shalat sempurna di desa Patik. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara MWC NU kecamatan Pulung dan mahasiswa yang sedang mengadakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STAIN Ponorogo yang kala itu bertugas di wilayah kecamatan Pulung. Setiap masjid yang ada di kecamatan Pulung diminta mengirimkan dua orang takmirnya sebagai perwakilan guna mengikuti acara pelatihan shalat sempurna tersebut. Ditambah dengan beberapa orang perwakilan dari mahasiswa KPM.


Pelatihan shalat sempurna ini merupakan bagian dari program kerja MWC NU kecamatan Pulung. Tujuannya yakni untuk memberikan pelatihan kepada para takmir masjid se-kecamatan Pulung tentang bagaimana tata cara shalat yang sempurna sesuai dengan yang diajarkan oleh rasulullah SAW. Mengingat selama ini banyak sekali tutorial tentang tata cara shalat yang tersebar di berbagai media yang tidak jelas sanad keilmuannya.

Selain itu, setelah para imam masjid mengikuti acara pelatihan shalat sempurna ini, mereka dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang selama ini belum diketahui dan terlanjur mentradisi. Mungkin butuh waktu untuk mengamalkan sebuah pengetahuan baru yang barangkali dianggap berbeda dengan pengetahuan sebelumnya yang sudah diamalkan selama bertahun-tahun lamanya. Kegiatan ini pun sebenarnya bukan untuk menyalahkan tata cara shalat yang lain, tapi lebih pada penguatan keyakinan dengan menunjukkan dalil-dalil tentang shalat yang bersumber langsung dari Al-Quran dan hadits Nabi saw.

Acara pelatihan ini dimulai sekitar pukul 20.00 wib sampai 23.00 wib. Sejauh pengamatan yang saya lakukan, peserta yang hadir cukup banyak dan responnya pun positif. Para peserta tidak segan-segan untuk mengajukan berbagai pertanyaan atas materi yang disampaikan. Pemateri pelatihan didatangkan langsung dari tim yang sebelumnya sudah mengikuti pelatihan yang sama secara langsung dari PBNU pusat. Jadi tidak diragukan lagi kapasitas dan sanad keilmuannya.

Pada sesi pertama, materi yang disampaikan terkait dengan thaharah sebagai syarat awal sebelum melaksanakan shalat. Karena shalat hukumnya wajib, maka mempelajari ilmu yang berkaitan dengan hal tersebut pun secara otomatis menjadi wajib. Meskipun tata cara shalatnya sudah baik, tapi bila thaharahnya masih banyak kesalahan, maka kurang sempurna.

Pada sesi selanjutnya, pemateri menyampaikan tata cara shalat yang sempurna, baik dari segi bacaan maupun gerakannya, seperti sujud, ruku’, takbiratul ihram, duduk tasyahud, salam, dan lain sebagainya. Yang menjadi fokus pembahasan pada pelatihan ini terletak pada aspek fiqhiyahnya, jadi hal-hal yang berkaitan dengan aspek batiniah seperti khusyu’ dan sejenisnya kurang tepat apabila diajarkan melalui metode pelatihan seperti ini.

Di sesi terakhir, seluruh peserta diajak bersama-sama mempraktikkan apa yang sudah diajarkan oleh pemateri. Dengan dipandu oleh seorang pemateri yang menjadi instrukturnya, para peserta pelatihan bersama-sama mempraktikkan tata cara shalat sempurna. Karena shalat, di samping dimensi batiniah yang terkandung di dalamnya, merupakan ibadah yang bersifat praktis. Oleh karena itu, tidak cukup apabila mengajarkan pengetahuan tentang tata cara shalat kepada seseorang tanpa disertai dengan praktik secara langsung sebagaimana yang dilakukan oleh rasulullah kepada para sahabatnya.

Demikianlah catatan singkat terkait pelaksanaan "Diklat Pelatihan Shalat Sempurna yang diadakan oleh MWC NU Kecamatan Pulung bekerjasama dengan Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STAIN PONOROGO tahun 2015.
Wikipendidikan
Back To Top