Rabu, 09 Maret 2016

Aplikasi Metode Sorogan dalam Pembelajaran Kitab Kuning di Pesantren

Istilah Sorogan pasti tidak asing lagi bagi para santri. Secara bahasa, Sorogan berasal dari istilah Jawa sorog yang artinya menyodorkan. Dalam sistem pembelajaran membaca kitab kuning di pesantren, metode sorogan dilakukan dengan cara santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab ke hadapan seorang ustad atau kyai. Metode sorogan melibatkan santri secara individu melalui kegiatan membaca kitab di hadapan ustad atau Kyai, kemudian ustad atau kyai itu menyimak, memberitahu kesalahan-kesalahannya, dan memberitahu bagaimana yang benar. Dalam hal ini, terjadi interaksi secara langsung antara pendidik dan peserta didik.

Di pesantren, kemampuan membaca kitab kuning dengan baik dan benar merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh santri. Pasalnya, kitab kuning merupakan bagian dari kurikulum yang menjadi ciri khas di pesantren. Ketika berbicara tentang makna kurikulum dalam konteks pesantren, pada umumnya yang dimaksud adalah kitab kuning itu sendiri, sebagai sumber belajar utama para santri.

Karakteristik atau ciri-ciri dari metode Sorogan yang digunakan sebagai metode untuk melatih santri membaca kitab kuning di pesantren di antaranya: 1). Lebih menekankan pada proses belajar individual dari santri, 2). Menekankan agar santri lebih aktif, 3). Banyak feedback dan evaluasi dari ustad, 4). Memberi kesempatan pada santri untuk dapat berkembang sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.


Pembelajaran dengan menggunakan metode Sorogan biasanya dilaksanakan di sebuah ruangan di mana posisi tempat duduk kyai atau ustad berhadapan dengan meja kecil dan pendek yang digunakan untuk meletakkan kitab bagi santri yang akan Sorogan. Apabila salah seorang santri sedang membacakan kitab (menyorog) di hadapan ustadz atau kyai, santri yang lainnya duduk agak jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh kyai atau ustad kepada temannya itu sekaligus mempersiapkan diri menunggu giliran.

Di samping kemampuan dalam membaca, hal lain yang harus diperhatikan adalah tingkat pemahaman santri terhadap isi kandungan dari materi yang dibaca. Dalam hal ini, metode Sorogan tidak sekedar memfokuskan pada kemampuan membaca secara verbal yang berhubungan dengan aspek kebahasaan, namun juga meliputi makna atau kandungan dari bahan bacaan.

Alokasi waktu yang digunakan dalam Sorogan ini tidak dibatasi secara rigid, namun bersifat lebih fleksibel. Kyai atau ustadz hanya memperkirakan saja berapa batas waktu yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Bila memang santri yang akan belajar dalam waktu yang bersamaan jumlahnya cukup banyak, biasanya kyai atau ustadz akan membimbing dengan waktu yang lebih singkat untuk masing-masing santri. Kecuali bagi yang memang tingkat pemahaman dan kemampuannya agak lambat.

Dalam proses pelaksanaan Sorogan, sebaiknya diciptakan situasi dan kondisi yang komunikatif dan interaktif antara santri dan kyai atau ustadz. Hal ini dimaksudkan agar aktifitas pembelajaran membuahkan hasil yang lebih baik, karena santri tidak akan segan-segan bertanya jika ada yang belum jelas atau belum dipahami. Namun barangkali situasi seperti itu masih jarang terjadi mengingat dalam tradisi pesantren menjunjung tinggi akhlak dan etika dalam belajar yang memposisikan guru sebagai sosok yang harus dipatuhi dan dihormati. Bahkan saking tingginya otoritas guru, bertanya pun seakan-akan dianggap sebagai perbuatan su’ul adab kepada guru/kyai. Tapi penggunaan metode Sorogan yang melibatkan santri dan ustad/kyai berhadapan secara langsung, hal tersebut dapat diminimalisir.

Adapun kelebihan-kelebihan dari penggunaan metode sorogan di Pesantren di antaranya ialah sebagai berikut :
  1. Terjalinnya hubungan yang erat dan harmonis antara santri dan kyai.
  2. Kyai dapat secara intens mengawasi, menilai, dan membimbing santri agar kemampuannya membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab berkembang secara maksimal.
  3. Santri mendapatkan konfirmasi yang jelas dan pasti tanpa harus ragu tentang cara membaca dan menginterprestasikan suatu kitab karena berhadapan langsung dengan kyai di mana santri dapat menanyakan hal-hal yang belum dipahami secara langsung pada saat itu juga.
  4. Kyai bisa mengetahui dengan pasti kualitas kemampuan yang telah dicapai santri-santrinya.
  5. Metode Sorogan memungkinkan santri dengan cepat dapat menguasai cara membaca kitab dengan baik dan benar.
  6. Santri bisa lebih mengerti dan memahami makna dari isi kitab yang dibacanya.
  7. Santri secara mandiri mampu menerapkan kaidah-kaidah bahasa Arab dalam kitab-kitab lain selain kitab yang ia pakai untuk Sorogan sebab memiliki prinsip-prinsip yang sama dan transferable.
  8. Santri mampu menerjemahkan isi kitab yang dibacanya,
  9. Santri lebih serius dalam menelaah materi pelajaran.
  10. Kyai memiliki kesempatan untuk mempengaruhi dan mengontrol santrinya terkait dengan kemajuan belajarnya.
  11. Kyai memiliki kesempatan untuk menghafal dan mendata nama-nama santri yang berada di bawah bimbingannya. Hal ini untuk mendata tingkat aktivitas dan perkembangan kemampuan santri waktu berikutnya.
Dengan mencermati kelebihan-kelebihan dari penggunaan metode Sorogan di atas, nampaknya tidak ada alasan bagi pesantren untuk tidak menggunakannya dalam sistem pembelajaran untuk para santri. Telah terbukti bahwa para alumni dari pesantren memiliki kemampuan gramatika dan transliterasi bahasa Arab yang baik dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang lainnya.

Walau tidak dapat dipungkiri bahwa setiap metode pembelajaran memiliki sisi kelebihan dan kelemahan, termasuk metode Sorogan sendiri, tapi sampai saat ini metode Sorogan masih tetap digunakan. Bahkan dalam kondisi-kondisi tertentu, beberapa lembaga pendidikan di luar pesantren pun turut menggunakannya.

Daftar Pustaka:
  • A. Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang press, 2008.
  • Ziemek, Pesantren Dalam Perubahan Sosial.
  • Mahmud, Model Pembelajaran & Pesantren. Tangerang: Media Nusantara, 2006.

0 Komentar Aplikasi Metode Sorogan dalam Pembelajaran Kitab Kuning di Pesantren

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top