Kamis, 25 Februari 2016

Rahasia Kesuksesan Sistem Pendidikan Pesantren

Sebagaimana sudah dimafhumi bersama bahwa pondok pesantren memilki sekian banyak keunikan yang hampir menjadi misteri. Sulit dirumuskan menjadi teori. Mengapa demikian? Sebab pondok pesantren menyimpan sekian banyak rahasia yang membuatnya menjadi satu-satunya pola pendidikan agama yang berhasil mengorbitkan ulama-ulama hebat sepanjang sejarah perkembangan Islam Nusantara.

Pendidikan pesantren dikelola tanpa standar teknis dan konsep manajemen yang baku. Jika seandainya ada 99 pesantren, bisa jadi juga ada 99 corak keragaman antara pesantren yang satu dengan lainnya. Akan tetapi dari keragaman pesantren itu, semuanya bermuara pada satu prinsip yakni pendidikan agama islam.


Pesantren memegang trilogi prinsip yang berupa integrasi antara ilmu, amal, dan ikhlas. Juga 3 prinsip pokok lain yang meliputi iman, islam, dan ihsan, atau yang biasa diistilahkan dengan Trilogi Agama:yang didalamnya memuat aqidah, syariah dan akhlak.

Mempelajari pokok-pokok agama sangat jauh berbeda dengan cara belajar ilmu pengetahuan umum seperti fisika atau matematika. Karena tujuan kita belajar agama bukan hanya untuk menyerap ilmu pengetahuan dan informasi ke dalam otak yang bisa kita lakukan dengan cara yang instant dan mandiri (otodidak).

Dalam belajar tentang agama, kita membutuhkan keyakinan serta kecerdasan yang kuat ('aqlun rajjaah), guru yang bisa membukakan hati muridnya (syaikhun fattaah), berjuang dan kejernihan hati (shafaa'ul qalbi), serta akhlak yang luhur.

Bapak Ahmad Syafi'i, salah seorang dosen saya menyatakan bahwa Ada beberapa alasan kuat dan logis, mengapa pesantren menjadi satu-satunya lembaga pendidikan islam yang paling representatif yang seharusnya menjadi tempat berlabuh bagi siapa saja yang hendak mempelajari ajaran agama dan ilmu-ilmu keislaman. Beberaps alasan tersebut yaitu:

Pertama, pesantren adalah rujukan bagi ajaran Islam yang paling terjamin validitasnya. Ajaran Islam di Pesantren adalah yang paling murni, karena ia terus dijaga dari pengaruh pemikiran-pemikiran asing yang memang kerapkali disusupkan. Maka ilmu-ilmu Islam yang diajarkan di Pesantren adalah yang paling layak untuk dipelajari dan dijadikan referensi mengenai Islam. Dalam hal ini Muhamaad bin Sirrin mengatakan: "Ilmu ini (Fiqh, ushul fiqh, hadis dll) adalah bagian dari agama, maka pertimbangkanlah secara matang, dari siapa kalian akan mempelajari agama kalian" (Shahih Muslim, 1/33).

Kedua, pesantren terus memegang kokoh prinsip-prinsip Islam yang telah diwariskan oleh para ulama salaf secara turun temurun. Jadi, ajaran Islam memang telah ditransmisikan secara berkesinambungan sejak dekade awal hingga kini via konsep "isnad" (mata rantai periwayatan). Dan perlu dicatat, hanya Islam yang memiliki konsep penjagaan yang "canggih" dan sistematis terhadap kemurnian ajarannya. Imam Abdullah bin Mubarok mengatakan:

عن عبد الله بن المبارك قال: الاءسناد من الدين ولولا الاءسناد لقال من شاء ما شاء

"Isnad merupakan bagian dari agama. Seandainya tdk ada isnad, niscaya setiap orang akan berbicara seenaknya". (HR. Muslim)

Ketiga, kurikulum pesantren telah didesain sesuai dengan semangat al-Qur'an dan hadis, sehingga proses belajar menjadi sinkron dengan tujuan dan target pencapaoannya.

Dan keempat, pesantren mengajarkan ilmu-ilmu dan ajaran Islam secara komprehensif, total, tuntas dan menyeluruh (kaffah) yang meliputi aqidah, syariah dan akhlak (iman, islam dan ihsan) yang lebih dikenal dengan konsep. Trilogi Aswaja.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top