Pengalaman Praktek Mengajar (PPLK) di SMPN 2 Ponorogo

Selayang Pandang tentang SMPN 2 Ponorogo

Ada banyak SMP favorit di kota Ponorogo ini. Salah satu SMP favorit itu adalah SMPN 2 Ponorogo. Sebagai salah satu SMP favorit, di SMPN 2 Ponorogo. telah diterapkan kurikulum terbaru, yaitu kurikulum 2013 berbasis karakter.

Sebagai salah satu mahasiswa jurusan pendidikan agama islam yang kebetulan oleh pihak kampus ditugaskan untuk praktek mengajar di sekolah tersebut, saya sedikit tau bagaimana kondisi dan proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah tersebut.

Pada pukul 06.45 WIB gerbang sekolah ditutup oleh penjaga. Jadi siswa sudah harus datang di sekolah sebelum jam tersebut. Di depan gerbang masuk area sekolah, para guru berjejer untuk bersalaman dengan semua siswa yang baru datang. Ini sudah menjadi tradisi positif di sekolah tersebut. Di samping itu, para guru juga memeriksa kelengkapan seragam siswa dan juga kerapian mereka. Bagi siswa yang rambut atau kukunya panjang, mereka diminta untuk memotongnya.

Pukul 07.00 WIB semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Pelajaran dimulai pada pukul 07.15 WIB. Di sela-sela waktu 15 menit tersebut, siswa membaca asma'ul husna, shalawat, surat-surat pilihan, menyanyikan lagu Indonesia raya, membaca buku, dan meresume. Kebiasaan ini berlaku bagi semua kelas tanpa terkecuali. Meskipun pada hari itu materinya bukan PAI, siswa tetap wajib melaksanakan kegiatan tersebut.


Menurut saya, hal ini sangat baik untuk dilestarikan sebagai bagian dari pengembangan spiritual siswa. Proses pembelajaran dilakukan oleh guru dengan berbagai metode dan strategi yang semuanya mengacu pada kurikulum 2013. Jadi tidak monoton seperti dulu di mana guru banyak berceramah di depan siswa sedangkan siswa hanya duduk diam dan mendengarkan. Itulah sedikit gambaran tentang proses pembelajaran di SMPN 2 Ponorogo.

Mengikuti Upacara Pelantikan OSIS SMPN 2 Ponorogo Periode 2015-2016

Pagi itu, upacara senin pagi di SMPN 2 PONOROGO nampak berbeda. Di samping sebagai kegiatan rutin senin pagi, upacara pagi ini sekaligus upacara pelantikan pengurus OSIS periode 2015-2016 yang telah dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa SMPN 2 PONOROGO beberapa waktu lalu.

Secara seremonial, pengurus OSIS lama periode 2014-2015 menyerahkan tongkat estafet kepengurusan organisasi kepada ketua OSIS baru yang telah terpilih dan dilantik hari ini.

Pagi ini ibu kepala sekolah tidak dapat hadir mengikuti upacara dikarenakan ada workshop kurikulum 2013. Oleh karenanya, tugas beliau sebagai pembina upacara diwakilkan.

Para pengurus OSIS yang baru tampak khidmat saat pengucapan sumpah sebagai penanggungjawab tugas-tugas organisasi.

Saya mengucapkan Selamat kepada segenap pengurus OSIS SMPN 2 PONOROGO PERIODE 2015-2016. Semoga kalian mampu mengemban tugas dengan baik dan penuh tanggungjawab. Dapat memperbaiki apa yang sebelumnya kurang baik, dan melengkapi apa yang sebelumnya masih kurang.

Mengikuti Upacara Pelantikan Pengurus Dewan Galang Pramuka SMPN 2 Ponorogo periode 2015-2016


Pada 28-Sep-2015 pagi, saya bersama teman-teman PPLK 2 di SMPN 2 Ponorogo mengikuti upacara rutin setiap hari senin. Saya tiba di sekolahan sekitar setengah 7 pagi, ternyata upacara baru dimulai jam 7 pagi. Sedikit mengecewakan, karena waktu bubug sehabis subuh jadi terpotong,hehe

Ada yang berbeda pada upacara pagi ini. Tidak seperti biasanya, pagi ini upacara yang dilaksanakan adalah upacara pelantikan pengurus dewan galang pramuka periode 2015-2016, sekaligus serah terima jabatan oleh pengurus lama kepada pengurus baru.

Suasana upacara berlangsung khidmat dan mengharukan. Saya dan teman- teman PPLK berbaris bersama dengan guru-guru lainnya.

Rasa bangga dan haru menyelimuti benak saya ketika melihat semangat para siswa yang begitu membara. Merekalah kader-kader yang akan meneruskan perjuangan para pendiri bangsa ini.

Pramuka merupakan wadah yang tepat untuk menggembleng mental disiplin, berani, dan tanggungjawab para siswa. Melalui bimbingan kakak-kakak pembina yang telah berpengalaman, para siswa peserta gerakan pramuka akan menjadi kader bangsa yang militan, cerdas secara spiritual, emosional, dan intelektual. InsyaAllah. Terus semangat buat adik-adik penggalang SMPN 2 PONOROGO.

Refleksi Kegiatan PPLK di SMPN 2 Ponorogo

Dari faktor saya pribadi sebagai pengajar, permasalahan utama yang saya rasakan adalah tentang pengkondisian kelas agar kondusif. Karena saya tidak mampu untuk bersuara keras, sulit bagi saya untuk mengkondisikan kelas yang terdiri dari 32 siswa dengan tata ruang yang cukup luas. Perlu latihan dan persiapan yang matang untuk menyiasati bagaiamana agar kelas kondusif tanpa perlu berteriak-teriak mengkondisikan siswa.

Dari faktor siswa, banyak dari mereka yang masih sulit untuk dikondisikan hanya melalui instruksi verbal. Walaupun sudah beberapa kali saya beri peringatan untuk fokus pada pelajaran, ada saja persoalan-persoalan yang memancing kegaduhan mereka. Mungkin saja karena masih pertemuan pertama atau memang suasana siang dan panas sehingga belajar menjadi pekerjaan yang membosankan. Saya berusaha memaklumi dan memahami keadaan mereka dengan mencoba membuat suasana pembelajaran sesantai mungkin.

Metode pembelajaran yang saya gunakan yaitu grup discussion. Sebelum itu saya menjelaskan peta konsep apa yang akan dipelajari hari itu dan memberi apersepsi berupa pertanyaan-pertanyaan yang merangsang respon mereka. Dengan membagi siswa menjadi 8 kelompok di mana tiap kelompok menjawab pertanyaan yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Selanjutnya, saya meminta masing-masing perwakilan kelompok maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Sedangkan siswa yang lain menanggapi dengan pertanyaan atau kritikan.

Ketika presentasi dari semua kelompok telah selesai, saya lanjutkan dengan mereview ulang materi yang telah dipelajari bersama-sama. Terakhir, saya memberi tugas mereka untuk dikerjakan di rumah, sesuai dengan tema waktu itu, yaitu tentang ibadah puasa.

Evaluasi PPLK 2 di SMPN 2 Ponorogo

Pada 12 Oktober 2015, saya dan teman-teman PPLK bersama guru pamong kami di SMPN 2 PONOROGO melakukan evaluasi terkait RPP kurikulum 2013 yang kami buat dan proses pembelajaran yang kami lakukan di kelas.

Terkait RPP, yang masih banyak kesalahan tentang indikator yang merupakan turunan dari empat KI yang tercantum dalam silabus. Masih banyak indikator yang tidak sesuai dengan KInya. Misalnya indikator yang seharusnya masuk kategori KI satu malah dimasukkan ke KI tiga dan seterusnya.

Selain tentang indikator, beberapa poin yang tercantum pada pendahuluan, tidak dilakukan saat proses pembelajaran. Begitu juga dengan lampiran materi, masih banyak yang salah dalam penulisan.

Masalah penilaian masih banyak yang tidak dicantumkan, meski tertulis di RPP bahwa instrumen penilaiannya terlampir, tapi tidak ada lampiran.

Proses pembelajaran yang kami lakukan dinilai kurang interaktif. Artinya kami masih banyak ceramah dan tidak mampu mengkondisikan kelas dengan baik, sehingga proses interaksi dengan siswa menjadi terhambat.

Pelajaran berharga dari kegiatan PPLK di SMPN 2 Ponorogo

Pada suatu pagi, saya menagih tugas tes tulis yang saya berikan kepada anak-anak. Terpaksa saya biarkan mereka mengerjakannya di rumah, meski seharusnya itu tugas evaluasi yang harus dikerjakan langsung di kelas. Tapi ternyata mereka memang pada "ngglonoh" seperti saya,hahaha hanya beberapa anak saja yang sudah selesai dan membawa lembar tugas yang saya bagikan.

Tugas itu merupakan tes tulis yang berisi uraian dan pilihan ganda. Tapi di bagian belakang lembar soal tersebut, saya meminta mereka untuk menuliskan pesan, kesan, kritik, dan juga saran terkait proses pembelajaran yang saya lakukan.

Ada beberapa anak yang sudah menulis kesan, pesan, kritik dan sarannya untuk saya. Beberapa kritik mereka adalah :
  1. Suara saya kurang keras saat menyampaikan materi pelajaran. Mereka menyarankan agar sebaiknya lebih keras lagi suaranya saat mengajar.
  2. Saya kurang tegas dalam menangani anak-anak yang gaduh, terutama anak laki-laki yang sering "gegeran" saat pembelajaran.
  3. Mereka juga mengkritik teman-teman saya yang biasanya menjadi observer kelas. Mereka bilang kalau teman-teman saya tidak murah senyum alias judes.
  4. Saya terlalu cepat dalam menyampaikan materi pelajaran, sehingga mereka jadi kurang paham dengan apa yang saya sampaikan.
Itulah beberapa kesan-pesan serta kritik-saran dari anak-anak. Saya sangat berterimakasih atas segala kritik, saran, dan masukan yang mereka ungkapkan. Apa yang saya pelajari dalam perkuliahan, berupa materi tentang berbagai teori dan kosep tentang pendidikan, ternyata implementasinya di lapangan tak semudah yang dibayangkan. Banyak kendala dan problem yang menuntut kreatifitas dan analisis yang mendalam untuk menyelesaikannya.

Sedikit demi sedikit saya mulai belajar dan menyadari bahwa tugas seorang guru memanglah sangat berat. Selain harus memiliki keterampilan mengajar yang baik, yang lebih penting lagi bagi seorang guru harus mampu menjadi teladan yang baik bagi seluruh anak didiknya. Sebab di samping mengajar, guru merupakan pendidik, yang menginternalisasikan nilai-nilai akhlak mulia ke dalam diri peserta didiknya.

Saat kegiatan Praktek pengalaman lapangan kependidikan atau disingkat PPLK sudah memasuki detik-detik terakhir. Hari kamis 29 oktober, merupakan pertemuan terakhir saya dengan adik-adik kelas 8 E SMPN 2 Ponorogo dalam proses pembelajaran di kelas.

Ada semacam rasa belum puas yang mengganjal di hati saya. Selama mengajar PAI empat kali pertemuan, saya merasa masih banyak sekali kekurangan dan kelemahan. Saya merasa belum mampu mentransformasikan materi pelajaran kepada siswa secara maksimal. Yang saya khawatirkan, mereka tidak bisa menguasai materi dengan baik, padahal materi-materi itu sangat penting sebagai bekal keagamaannya di masa mendatang. Saya tidak terlalu mempersoalkan masalah nilai dari tes tulis mereka. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana materi-materi itu bisa bermakna dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Pesan Ibu Kepala Sekolah SMPN 2 Ponorogo pada acara penutupan PPLK

Bertepatan tanggal 11 November 2015, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Hari yang menjadi simbol penghargaan bangsa atas perjuangan para pahlawan dalam melawan penjajah yang telah rela berkorban harta, tenaga, dan jiwanya untuk kemerdekaan bangsa.

Moment ini bertepatan dengan acara penutupan PPLK saya di SMPN 2 PONOROGO. Setelah kurang lebih satu bulan saya dan beberapa orang teman melaksanakan PPLK, hari ini merupakan finish dari semua agenda kegiatan yang kami lakukan.

Dengan didampingi oleh DPL dan guru pamong, kami mengadakan acara penutupan Praktek Pengalaman Lapangan Kependidikan (PPLK) di ruang kepala sekolah. Tak lupa ibu kepala sekolah pun ikut hadir dalam acara tersebut.

Ibu Drs. Sy. Cristine Suala, M.Pd selaku kepala sekolah SMPN 2 Ponorogo dalam sambutannya memberikan banyak pesan dan nasehat yang sangat mendalam bagi saya dan teman-teman.

Beliau berpesan, bahwa sebagai guru PAI, kami tidak hanya bertanggungjawab secara intelektual, lebih dari itu kami bertanggungjawab secara moral spiritual. Bukan hanya tanggungjawab atas transformasi pengetahuan-pengetahuan keagamaan kepada anak-anak, tapi juga bagaimana menjadi suri tauladan yang baik bagi mereka dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari.

Amanah yang harus kami tunaikan lebih berat dibandingkan dengan guru-guru mata pelajaran umum. Sebab yang menjadi prioritas utama kami adalah pembentukan karakter anak, di mana dengan karakter yang baik, mereka menjadi pribadi-pribadi unggul yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa. Kepandaian, kecerdasan, pengetahuan yang luas, akan menjadi bumerang bagi diri dan petaka bagi banyak orang jika tidak dikontrol oleh kecerdasan emosi dan spiritual.

Beliau optimis, latihan mengajar yang kami laksanakan di sekolah tersebut betul-betul membawa manfaat dan berkah bagi kami. Walaupun dalam waktu yang cukup singkat, setidaknya kami sedikit tau bagaimana mengimplementasikan apa yang sudah kami pelajari di bangku perkuliahan ke dalam kondisi real pembelajaran di kelas.

Kami menjadi tau, bahwa tidak semua teori itu dapat diaplikasikan. Pun pula, tidak semua aplikasi itu berdasaekan teori. Seringkali kita melakukan tindakan yang tidak berdasarkan teori, dan di saat yang lain, kita teori yang kita pelajari ternyata tidak dapat kita aplikasikan.

Ibu kepala sekolah juga menasehati kami untuk senantiasa ringan tangan dan ikhlas dalam memudahkan urusan orang lain. Sebab dengan hal itu, kita telah menanam kebaikan yang suatu saat nanti pasti kita akan menuainya dengan hasil yang lebih besar.

Kalau kita menanam kebaikan, maka kita akan menuai kebaikan pula, bahkan dalam jumlah yang lebih besar. Pun pula sebaliknya, jika kita menanam keburukan, maka yang akan kita tuai keburukan yang lebih besar pula. Semuanya, baik atau buruk, akan kembali kepada diri kita sendiri.

Ibarat kita menanam sebiji jagung di dalam tanah. Maka hasil yang akan kita dapatkan berkali-kali lipat lebih banyak dari satu biji yang kita tanam tersebut. Hanya saja, kita harus sabar menuai hasilnya.

Bila bukan kita yang akan menuai kebaikan yang telah kita tanam hari ini, mungkin anak dan cucu kita kelak yang akan menuainya. Jadi, kita tidak akan pernah rugi bila menanam kebaikan.

Terkadang, doa yang kita panjatkan hari ini, dikabulkan oleh Allah setahun, dua tahun, bahkan beberapa ratus tahun yang akan datang. Jangan sampai kita pesimis dan enggan berdoa karena merasa tak segera terkabulkan. Bersabarlah, semua akan indah pada waktunya!

Di akhir sambutannya, beliau mengucapkan selamat atas selesainya PPLK kami dan mendoakan kami semoga sukses meraih semua cita-citanya di masa depan.
Wikipendidikan
Back To Top