Rabu, 03 Februari 2016

Memperbaiki Citra Rasulullah SAW dalam Materi PAI di Sekolah

Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia sempurna yang membawa misi ajaran islam dengan nilai-nilai toleransi dan kasih sayang sesama makhluk. Ironisnya, dalam pendidikan islam, khususnya pembelajaran agama islam di sekolah-sekolah di Indonesia, materi yang mengajarkan "sirah nabawiyah" atau sejarah kenabian, kisah-kisah yang ditonjolkan dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW lebih banyak yang berkaitan dengan berbagai peperangan yang beliau lakukan.

Hal itu dapat memunculkan persepsi dalam benak siswa bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang gemar berperang dalam proses dakwah islam yang beliau lakukan. Implikasinya, sisi kepribadian beliau yang penuh kasih sayang dan toleran tidak banyak diketahui oleh siswa. Seharusnya, kepribadian Rasulullah SAW yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kasih sayang mendapatkan porsi yang lebih dalam materi PAI tentang sejarah kenabian di sekolah.

Itulah yang menjadi kegelisahan bapak Menteri Agama, Lukman Hakim dalam orasinya di acara Milad ke-15 Yayasan Roushon Fikr di Jombang, Jawa Timur, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com pada hari Sabtu 9 Januari 2016.

Menurut bapak Lukman Hakim, materi pendidikan agama islam tentang sejarah kenabian yang diajarkan oleh guru di kelas pada umumnya menceritakan tentang berbagai perang di man Nabi Muhammad terlibat secara langsung di dalamnya, misalnya Perang Badar dan Perang Uhud.

Lebih lanjut bapak menteri memaparkan, materi pendidikan agama Islam yang mencitrakan Rasulullah SAW cenderung akrab dengan kekerasan ini, dikuatkan oleh semakin gencarnya penetrasi budaya global-modern yang negatif dan destruktif.

Di antara caranya seperti unsur-unsur kekerasan yang secara implisit maupun eksplisit disampaikan melalui game dan film. Hal itu berkontribusi terhadap melekatnya muatan-muatan kekerasan melekat dalam benak anak. Tidak menutup kemungkinan pula anak akan berperilaku sejalan dengan apa yang tergambar di benaknya.

Melihat kenyataan ini, bapak Menag berupaya untuk memberikan citra yang positif ke dalam diri siswa tentang pribadi Rasulullah SAW. Sisi kepribadian Rasulullah SAW tidak boleh diungkap secara parsial, namun harus komprehensif. Oleh karena itu, pihak kemenag akan berusaha membuat rancangan umum tentang materi pelajaran agama islam supaya generasi islam lebih memahami inti agama islam itu sendiri.

Islam selalu mendorong umatnya untuk bersikap moderat, kasih sayang terhadap sesama, dan membudayakan sikap toleransi. Sebagaimana makna Islam secara etimoligi, yaitu selamat atau keselamatan. Artinya, Islam yang dikembangkan bukan sebagai agama yang ekstrim.

Bapak Lukman Hakim menambahkan, pada dasarnya substansi agama itu harus mampu menyejahterakan sesama manusia, atau lebih dikenal dengan istilah memanusiakan manusia, sehingga manusia itu sendiri menjunjung harkat martabatnya sebagai manusia.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top