Senin, 01 Februari 2016

Internet dan Bahaya yang Mengintai Generasi Muda Islam

Internet dan Bahaya yang Mengintai Generasi Muda Islam

Kemudahan akses informasi melalui internet telah menggeser paradigma para pelajar dalam mencari sumber pengetahuan, termasuk dalam bidang keislaman. Anak usia remaja atau ABG yang statusnya masih pelajar setingkat SMP/SMA belum matang baik secara emosional maupun intelektualnya. Di dalam otaknya pasti menumpuk pertanyaan-pertanyaan yang dalam menjawabnya harus disertai arahan dan bimbingan langsung dari orang dewasa, terutama orang tua.

Memang di usia anak-anak atau saat memasuki usia remaja, tingkat interaksi mereka dengan guru atau orang tua pun sangat minim, sehingga para ABG labil ini lebih memilih internet sebagai solusi jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Usia remaja memang usia di mana seorang anak cenderung lebih nyaman bergaul dengan teman sebayanya daripada guru atau orang tuanya. Bahkan, seringkali terjadi konflik dengan kedua orang tua. Oleh karenanya, dalam membimbing mereka harus dengan pendekatan emosional secara halus, jangan sampai dengan cara-cara kasar seperti membentak.

Saat ini banyak kita temui anak-anak muda generasi islam yang belum matang secara intelektual dan emosional, belajar islam melalui internet. Padahal, mereka belum punya bekal yang cukup untuk melakukan filterisasi informasi yang ada di dalamnya.

Sebagaimana kita ketahui, internet bagaikan hutan belantara yang untuk masuk ke dalamnya kita butuh senjata dan penunjuk arah guna melindungi diri kita dari serangan binatang buas atau tersesat di dalamnya. Jika kita tidak memiliki perlindungan diri yang baik, maka kita pasti akan tersesat atau jatuh ke dalam jurang yang menyesatkan.

bahaya-internet-islam.jpg
Sumber gambar: pixabay.com
Di internet, ada jutaan artikel bertema keislaman mulai dari akidah, fikih, syariah, ibadah, dan lain sebagainya. Dalam setiap pokok pembahasannya, biasanya tidak lepas dari ideologi atau pemikiran tokoh tertentu yang antara satu dengan lainnya banyak dijumpai perbedaan pendapat, terutama dalam wilayah furu'iyah. Hal itu sebenarnya termasuk perbandingan madzhab, di mana para ulama' berbeda pendapat atas satu kasus yang sama karena perbedaan cara dan hasil ijtihadnya. Dan nalar keilmuan anak-anak sekelas SD/SMP/SMA pada umumnya belum waktunya mencerna materi-materi rumit seperti itu. Jika terlanjur masuk ke dalam otak mereka, akibatnya akan fatal.

Ketika kondisi kejiwaan dan keilmuan mereka belum matang, tapi sudah mengkonsumsi materi-materi seperti itu, maka ibarat komputer dengan prosesor pentium satu dipaksa melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh komputer pentium empat.

Ketika anak-anak belajar tentang perbedaan-perbedaan di kalangan imam madzhab tentang hukum-hukum fikih, maka yang akan terjadi adalah kebingungan memilih mana yang paling benar. Dan pada akhirnya, bisa jadi mereka menolak semua pendapat para imam madzhab hanya karena mereka banyak memiliki perbedaan pendapat dalam hasil ijtihadnya.

Bertolak dari kenyataan di atas, maka yang solusi yang tepat adalah mengajarkan kepada anak-anak satu madzhab saja. Hal ini merupakan kewajiban bagi para orang tua, guru, dan semua pihak yang bersentuhan langsung dengan anak-anak dalam urusan pendidikan agama islam. Yaitu memberikan pelajaran fikih kepada peserta didik dengan manhaj salah satu mazhab tertentu sampai benar-benar matang dan tuntas, tidak dicampur-campur dengan manhaj dari madzhab lain. Metode pembelajaran seperti ini tujuannya adalah menguatkan keyakinan anak agar tidak goyah dan terombang ambing dalam keraguan.

Sejalan dengan makna pendidikan sebagai bimbingan dari orang dewasa terhadap anak-anak menuju kedewasaan/kematangan. Anak-anak tidak langsung diajak berfikir tentang ijtihad para imam madzhab yang berbeda-beda hasilnya. Karena otak mereka belum siap untuk menerima segala perbedaan.

Buat para orang tua khususnya, jangan biarkan anak-anak mencari sendiri pengetahuan agama islam tanpa pembimbing. Membiarkan mereka mencari sendiri dengan kesiapan otak yang masih minim, adalah sebuah bahaya yang harus kita cegah.

Menjadi orang tua di era digital seperti saat ini memang berat. Ada bahaya yang setiap saat mengintai anak-anak dan generasi muda kita. Internet, selain memberikan kemudahan akses informasi dan ilmu pengetahuan, juga memiliki sisi negatif yang harus diperhatikan para orang tua. Para orang tua harus cerdas dan jeli menyeleksi dan memilih situs mana yang pantas atau tidak pantas diakses anak-anaknya. Sebab sulit rasanya melepaskan sama sekali keberadaan internet terhadap mereka.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top