Keunggulan Pembelajaran Aktif dalam Kurikulum 2013

Wikipendidikan - Saat ini, kurikulum 2013 sudah banyak diimplementasikan di sekolah di Indonesia. Kurikulum 2013 digadang-gadang sebagai kurikulum yang dapat merubah kemampuan peserta didik yang tadinya pasif, menjadi peserta didik yang rajin belajar secara mandiri, aktif, dan berkarakter.

Kurikulum yang merupakan bentuk pengembangan dari kurikulum sebelumnya (KTSP) ini menekankan pada konsep Active Learning atau pembelajaran aktif. Kata kunci dari konsep pembelajaran ini adalah menekankan pada keaktifan siswa dalam pembelajaran, yaitu mengupayakan peserta didik agar lebih aktif dalam proses pembelajaran melalui penggunaan metode dan media yang tepat.

Dengan mengacu pada kurikulum 2013 ini, para guru diharapkan mampu meningkatkan kreatifitas dan keaktifan setiap peserta didiknya. Tidak seperti pembelajaran konvensional di mana guru yang selalu aktif sedangkan peserta didik cenderung pasif menyimak apa yang disampaikan oleh guru. Dalam konsep Active Learning, peserta didik dituntut untuk aktif berpartisipasi selama proses pembelajaran berlangsung.

Menurut Muhammad Nuh, konsep active learning yang menjadi inspirasi dalam kurikulum 2013 ini diyakini mampu mendongkrak daya serap peserta didik terhadap mata pelajaran yang disampaikan guru sampai 90%. Jauh berbeda dengan konsep pembelajaran pasif yang diyakini hanya mampu mendongkrak daya serap siswa 30% saja.

Perbedaan hasil yang dicapai, tentu tidak lepas dari perbedaan cara atau metode yang digunakan untuk memperoleh hasil tersebut. Dalam kurikulum 2013, implementasi dari konsep active learning pada kenyataannya membutuhkan media pembelajaran yang berbeda dengan konsep pembelajaran pasif. Jika dalam pembelajaran pasif, tidak banyak menggunakan media pembelajaran, maka lain halnya dengan active learning. Dalam pelaksanaan konsep Active Learning, guru membutuhkan media yang cukup beragam dalam proses pembelajaran, khususnya media yang bersifat audio visual.

Guru dituntut untuk kreatif dalam memilih, menggunakan, dan mengembangkan media pembelajaran untuk meningkatkan fokus dan keaktifan peserta didik. Media pembelajaran yang digunakan harus mampu merangsang peserta didik untuk fokus dan berpastisipasi aktif dalam pembelajaran. Bentuk partisipasi aktif itu bisa berupa keberanian untuk menyampaikan pendapat, aktif bertanya, atau menanggapi pertanyaan. Hasil akhirnya, tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

Sebagus apa pun konsep yang disusun untuk mencapai sebuah tujuan, sebenarnya tidak lepas dari subjek atau pihak yang melaksanakan konsep tersebut di lapangan. Dalam hal ini, keberhasilan kurikulum 2013 dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, sangat ditentukan oleh peran guru, orang tua, dan elemen masyarakat sebagai eksekutornya. Tiga elemen yang oleh Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Tri Pusat pendidikan ini tidak harus membangun kerjasama dan bersinergi satu sama lain dalam menyukseskan tujuan pendidikan.

Saya rasa kurang tepat jika kurikulum 2013 yang notabene disebut-sebut sebagai kurikulum berbasis karakter ini, yang menjadi sasaran tembak untuk dibangun karakternya adalah peserta didik saja. Apakah semua guru sudah berkarakter? Semua orang tua sudah berkarakter? Tentu saja belum. Oleh karena itu, adalah kewajiban seorang guru sebagai pendidik, harus membuat dirinya berkarakter terlebih dahulu seperti yang dituntut oleh kulrikulum 2013 ini, sebelum mereka membuat para peserta didiknya berkarakter. Sebagaimana dapat kita lihat dalam pendidikan di masa Rasulullah SAW, keefektifan metode keteladanan yang beliau terapkan dalam membangun karakter para sahabatnya meraih hasil yang luar biasa.
Wikipendidikan
Back To Top