Dina Anjani, Aktris yang Prioritaskan Pendidikan

Dina Anjani adalah salah satu aktris kelahiran Bogor yang sering membintangi FTV. Salah satu hal menarik yang patut kita contoh dari aktris yang pernah memiliki cita-cita menjadi pramugari ini adalah prioritas dan semangatnya dalam pendidikan. Baginya, pendidikan merupakan hal yang urgen dalam hidupnya.

Rutinitasnya sebagai aktris yang harus syuting sana-sini, ia tetap memprioritaskan belajarnya. Bila ada jadwal syuting yang bentrokan dengan jadwal kuliah atau ujian, dia berani menolak atau membatalkan acara atau tawaran syutingnya. Baginya, pendidikan adalah nomor 1.

Dina Anjani tercatat sebagai mahasiswi jurusan Public Relations di London School of Public Relations. Ia memilih jurusan itu bukan semata-semata untuk mengejar pekerjaan atau karir. Tapi dia ingin mampu berkomunikasi dengan lebih baik lagi, mengingat dia dulunya termasuk orang yang cenderung pendiam.

Sumber gambar: wikipedia
Tak banyak aktris yang seperti Dina Anjani ini, yang menomorsatukan pendidikan daripada pekerjaannya. Biasanya, ketika telah terjun di dunia hiburan, orang tak lagi menomorsatukan masalah pendidikan. Yang dikejar hanya uang dan popularitas semata.

Pendidikan memang seharusnya menjadi nomor satu. Sebagaimana dalam konsep islam yang menyatakan bahwa mencari ilmu itu menjadi kewajiban setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan sejak dari buaian hingga ke liang lahat.

Pendidikan tidak hanya identik dengan sekolah formal. Lebih dari itu, konsep pendidikan sepanjang hayat berlangsung di mana pun kita berada dan kapan saja.

Janganlah kita menjadikan pendidikan semata-mata sebagai sarana atau batu loncatan untuk meraup uang dan mengejar karir di masa depan. Meskipun itu sah-sah saja, namun ada hal yang lebih penting dari itu.

Kita dapat belajar dari Dina Anjani tentang apa yang seharusnya menjadi fokus dalam pendidikan yang kita jalani. Fokuslah pada penguasaan dan aplikasi ilmu dari ilmu yang anda pelajari.

0 Komentar Dina Anjani, Aktris yang Prioritaskan Pendidikan

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top