Rabu, 24 Februari 2016

Budaya ala Tukang Rental di Kalangan Mahasiswa

Salah seorang dosen saya pernah mengatakan bahwa mayoritas mahasiswa saat ini bermental rentalis. Dalam mengerjakan tugas-tugas ilmiah mereka tidak jauh beda dengan seorang tukang rental komputer yang pekerjaannya sehari-hari duduk manis di depan komputer sambil mengetik halaman demi halaman buku yang ada disampingnya. Ia bahkan tidak paham dengan tulisan yang dikutipnya.

Banyak mahasiswa yang tidak tau dan tidak bisa membedakan mana kutipan langsung dan mana kutipan tidak langsung. Akibatnya, banyak karya tulis ilmiah yang secara aturan kepenulisan telah melakukan tindakan plagiarisme tanpa disadari oleh si penulis itu sendiri. Jadi tidak heran jika mahasiswa sekarang daya analisisnya semakin tumpul.

Fenomena yang saya temui, khususnya di kampus saya sendiri, sebuah karya ilmiah misalnya makalah, biasanya hanya berisi full kutipan langsung dari pemikiran orang lain. Bahkan dari satu buah buku referensi, yang dikutip isinya bisa berlembar-lembar. Biasanya mereka hanya duduk memangku laptop dan buku referensinya kemudian mengetiak begitu saja isi dari bagian buku yang ingin dikutipnya tanpa dipelajari atau dipahami dulu isinya. Tindakan seperti ini sama persis dengan tukang rental.

Minimnya pengetahuan tentang aturan kepenulisan dalam sebuah karya ilmiah telah menjebak banyak mahasiswa dalam tindak plagiarisme tanpa disadari. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau sekarang banyak kasus plagiat yang menyeret para akademisi hingga mereka harus rela menanggalkan gelar kesarjanaannya.

Selain karena faktor minimnya wawasan pengetahuan tentang kepenulisan, nilai kejujuran, ketekunan, dan kesabaran di kalangan mahasiswa semakin usang dimakan zaman yang semakin lama menggencer mereka dalam budaya hedonis. Pola pikir serba cepat, praktis, dan enak, membuat seseorang bertindak dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan tanpa harus bersusah payah. Padahal, hidup ini penuh dengan perjuangan, dan seberapa besar usaha kita memperjuangkannya, maka sebesar itu pula hasil yang akan kita dapatkan.

 Budaya ala tukang rental yang menjamur di dunia literasi ilmiah mahasiswa juga disebabkan karena faktor rendahnya minat baca. Minat baca sebagian besar mahasiswa di negeri ini masih rendah. Padahal, aktifitas menulis, baik fiksi maupun non-fiksi, tidak bisa dilepaskan dari aktifitas membaca sebagai bagian dari cara menyusun ide dan mengumpulkan pemahaman atas topik tulisan.

Semoga catatan singkat ini menjadi bahan refleksi bagi kita yang disebut-sebut sebagai bagian dari akademisi. Selanjutnya, mulai untuk secara konsisten belajar dan mengembangkan diri sebagai bentuk kedewasaan kita dalam mempertanggungjawabkan apa yang sudah terlanjur dilabelkan pada diri kita sebagai “Mahasiswa”.

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top