Rabu, 24 Februari 2016

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, kita mengenal beberapa aliran filsafat. Aliran-aliran filsafat pendidikan ini menentukan corak dari pendidikan itu sendiri, baik dari segi tujuan yang hendak dicapai, proses belajar mengajar, dan juga konsep dasarnya. Apa pentingnya mengetahui aliran-aliran filsafat pendidikan? Tentu saja dengan memahami aliran-aliran filsafat pendidikan maka kita akan mudah dalam membaca dan menganalisis jenis filsafat apa yang menjadi rancang bangun sistem pendidikan dari suatu lembaga pendidikan. Bahkan termasuk juga menganalisis berbagai kebijakan dalam pendidikan, baik itu menyangkut masalah kurikulum, tujuan pendidikan, dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa alitan filsafat dalam pendidikan.

1. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme

Salah satu filsafat pendidikan yang kita kenal yaitu filsafat pendidikan eksistensialisme. Filsafat pendidikan eksistensialis berpandangan bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Seseorang akan menjadi tahu tentang sesuatu melalui pengalaman. Hal ini bergantung pada tingkat kesadaran masing-masing orang untuk mencari pengalaman. Kebenaran menurut mereka adalah relatif, tergantung kepada keputusan mereka masing-masing. Begitu pula nilai-nilai ditentukan oleh setiap individu.[1]

Orang tidak perlu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai sosial, agar eksistensi dirinya tidak hilang. Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan individu, memberi kesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangan pengetahuan diri sendiri, dan mengembangkan komitmen diri. Materi pelajaran harus memberi kesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan sendiri, baik dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kehidupan manusia. Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan individu-individu mereka.[2]


Metode pembelajaran yang digunakan ialah dengan cara mendorong siswa untuk mengikuti segala kegiatan dengan tujuan mengembangkan potensi masing-masing untuk menemukan jati diri.[3]

Dari berbagai uraian di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal tentang pandangan eksistensialisme dalam dunia pendidikan. Bagi aliran ini, eksistensi individu adalah segalanya. Oleh karena itu, pendidikan diarahkan untuk menumbuh-kembangkan segenap potensi dalam diri individu semaksimal mungkin melalui berbagai cara yang dianggap mampu memenuhi target tersebut.

2. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme

Aliran Filsafat pendidikan Rekonstruksionisme ini sering diartikan sebagai rekonstruksi sosial yang merupakan perkembangan dari gerakan filsafat pendidikan progresivisme. Umumnya rekontruksionisme menganggap bahwa progresivisme belum cukup jauh berusaha memperbaiki masyarakat.

Rekonstruksionisme timbul sebagai akibat dari pengamatan tokoh-tokoh dari pendidikan terhadap masyarakat Amerika khususnya dan masyarakat Barat umumnya.keadaan masyarakat tidak sepadan dengan harapan ideal seperti timbulnya kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan. Untuk mengembalikan kepada kedaan semula hendaknya pendidikan dapat berperan sebagai instrumen rekntruksi masyarakat.

Dengan demikian, Rekontruksionisme menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam kaitanya dengan masyarakat. Artinya, bahwa tujuan pendidikan, kurikulum, metode, peran guru dan peran sekolah sebagai lembaga pendidiakan hendaknya searah dengan kebutuhan masyarakat. Peserta didik dalam sekolah yang becorak aliran Rekontruksionisme ini diarahkan supaya mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat dimana ia tinggal. Jadi orientasi pendidikannya adalah masyarakat.

Imam Barnadib mengartikan Rekontruksionisme sebagai filsafat pendidikan yang menghendaki agar anak didik dapat dibangkitkan kemampuanya untuk secara rekontruktif menyusuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi.

Arthur K. Ellis mengatakan bahwa Rekontruksionisme merupakan perkembangan dari progresivisme dalam pendidikan, yang kadang kala diartikan sebagai rekontruksi sosial. Pengikut aliran ini pada umumnya menganggap bahwa progresivisme belum berjalan cukup jauh dalam mengupanyakan perbaikan masyarakat, mereka juga beranggapan progresivisme hanya memperhatikan problematika masyarakat pada saat sedang dihadapi, pdahal yang diperlukan di abab kemajuan teknologi yang bergerak dengan cepat adalah upaya merengkontruksi masyrakat dan pencitaan tatanan dunia yang baru secara menyeluruh.

John Dewey menerangkan bahwa Rekontruksionisme menjelaskan akhir (akibat atau hasil) dan proses. Artinya, pendidikan dalam Rekontruksionisme tidak identik dengan ketidakpastian arah atau tujuan dan tanpa melalu proses. Meskipun Rekontruksionisme menganggap bahwa pengalaman mengalami perkembangan dan perubahan, tidak berarti pendidikan yang diselenggarakan kehilnagn arah dan tujuan. Pengalaman dan kegiatan yang secra continu berkembang dan berubah tersebut merupakan bagian dari pendidikan.

Oleh karena itu, pendidikan yang diselenggarakan harus senantiasa berkembnag dan berubah, sejajar dengan tuntutan yang dihadapi oleh pendidikan pada saat itu. Konstruksi pengalaman itu bisa terjadi baik pada individu maupun kolektif.konsekuensinya, pendidikan mesti memperhatikan kedua aspek tersebut.

Dikatakan pendidikan adalah rekonstruksi atau reorganisasi pengalaman sedemikian hingga mampu menambah makna pengalaman tersebut, serta dapat meningkatkan kemampuan untuk menentukan arah pada pengalaman berikutnya Sehingga kaitannya dengan pendidikan yaitu rekontruksionisme menghendaki tujuan pendidikanuntuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai pronlematika sosial, politik dan ekonomi yang dihadapi oleh manusia secara global, dan membina mereka. kurikulum dan metode pendidikan bermutan sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat.[4]

3. Filsafat Pendidikan Progressivisme

Aliran filsafat pendidikan Progresivisme lahir di Amerika Serikat. Tokoh aliran ini adalah John Dewey. Filsafat ini memiliki jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut aliran ini, tidak ada tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relatif. Apa yang sekarang dipandang benar, tahun depan belum tentu masih dianggap benar. Ukuran kebenaran adalah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini. Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang diprioritaskan dalam pendidikan adalah mengembangkan bagaimana peserta didik untuk bisa berpikir dengan baik. Upaya yang dilakukan untuk mencapai hal ini ditempuh melalui metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi terpusat pada anak.[5]

Progresivisme yang lahir sekitar abad ke-20 merupakan filsafat yang bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang diperkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859- 1952), yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ide-ide dasar filsafat pragmatisme yang telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama bahwa manusia dalam hidupnya untuk tetap survive terhadap semua tantangan, harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya.

Aliran filsafat pendidikan Progresivisme ini dalam proses pembelajarannya bersifat student centered atau peserta didik lebih dominan. Aliran ini meyakini bahwa peserta didik merupakan manusia-manusia yang sejak lahir memiliki potensi bawaan. Guru hanyalah sebatas fasilitator yang bertugas mengaktualisasikan segenap potensi mereka agar mereka mampu secara kreatif dan mandiri menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Tidak boleh ada otorisasi dari guru, baik dalam hal fisik maupun psikis.

Aliran ini merupakan penggagas kemerdekaan dan kebebasan berpikir peserta didik guna mengoptimalkan daya kemampuan dan kreatifitas mereka tanpa terhambat oleh lingkungan pendidikan itu sendiri. "Kemajuan dan semangat perubahan" merupakan kata kunci dari pandangan filsafat progresivisme. Peserta didik dipersiapkan untuk mampu menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang dan menyelesaikan berbagai persoalan yang semakin kompleks.

4. Filsafat Pendidikan Perennialisme

Aliran filsafat perennialisme ialah aliran yang berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat kekal abadi. Aliran ini memandang bahwa zaman modern mengakibatkan krisis di berbagai bidang kehidupan manusia. Oleh karena itu, aliran ini memberikan konsep jalan keluar “regressive road to cultural”, yakni kembali kepada kebudayaan masa lampau. Perennialisme masih memandang penting peranan pendidikan dalam proses mengembalikan keadaan manusia sekarang kepada kebudayaan atau tradisi masa lampau yang dianggap telah cukup ideal.

Aliran Perennialisme ini mengidealkan kondisi masa lampau sebagai kondisi ideal dan masih tetap relevan untuk dijadikan sebagai tujuan dari pendidikan saat ini. Mereka menolak Modernitas karena dianggap sebagai biang keladi tercerabutnya nilai-nilai ideal masa lampau dari kebudayaan masyarakat.

Robert M. Hutchins, seorang tokoh perennialisme mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah mengajar, di mana di dalam proses mengajar itu terkandung pengetahuan, pengetahuan itu dianggap sebagai kebenaran, dan kebenaran itu di manapun adalah sama.[6] Dari pendapat ini dapat kita ketahui bahwa dalam proses mengajar, guru merupakan tokoh sentral yang diasumsikan sebagai pemilik kebenaran. Peran guru dalam pembelajaran sangat dominan.

Dasar filosofis yang aliran perennialisme adalah Scolatisisme atau Neo-Thomisme yang memandang kenyataan sebagai sebuah dunia akal pikiran dan Tuhan, pengetahuan yang benar diperoleh melalui berpikir, keimanan, dan kebaikan yang berdasarkan perbuatan rasional.[7] Dengan kata lain, alam raya ini merupakan tajalli atau penampakan dari Tuhan sekaligus manifestasi dari buah akal pikiran manusia.

Model pendidikan yang boleh dikatakan mirip dengan paradigma aliran Perennialisme ini adalah model pendidikan yang diterapkan di pesantren-pesantren salaf murni. Mulai dari metode mengajar, sumber belajar, bahkan hubungan sosial guru dan murid, semuanya mengambil konsep tradisi keintelektualan dan nilai-nilai kebudayaan islam di masa lampau. Penggunaan alat-alat komunikasi dan informasi sebagai bagian dari produk teknologi modern sangat dibatasi, bahkan dilarang sama sekali.

Catatan kaki

[1] Made Pidarta, Landasan Kependidikan, 93.
[2] Ibid., 34.
[3] Basuki, Pengantar Filsafat Pendidikan, 47.
[4] Abd. Rachaman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma baru pendidikan hadhari berbasis integrative-interkonektif (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), 206-207.
[5] Made Pidarta, Landasan Kependidikan, 92.
[6] Basuki As’adi, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN PO. Press, 2010), 17.
[7] Ibid., 18.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top