Rabu, 25 Februari 2015

Pengalaman Wawancara dengan Guru BK di SMP Katolik Slamet Riyadi Ponorogo

Tulisan ini adalah laporan penelitian dengan metode wawancara yang saya lakukan di SMPK Slamet Riyadi Ponorogo pada hari rabu 10 Desember 2014 tentang kinerja guru BK. Penelitian ini saya lakukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Bimbingan dan Konseling. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kinerja guru BK di sekolah tersebut. Dengan mengetahui atau sedikitnya mengerti gambaran dari kinerja guru BK di sekolah tersebut, maka hasilnya nanti bisa kita jadikan sebagai bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan BK di sekolah.

SMP yang satu ini memang agak berbeda dengan kebanyakan SMP di Ponorogo, pasalnya SMP ini adalah SMP Katolik. SMP Katolik Slamet Riyadi memiliki jumlah siswa sebanyak 76 anak dengan satu guru BK. Meskipun lembaga pendidikan Kristen, akan tetapi guru BK di sekolah ini, yaitu ibu Kusnul Ganiah, beliau beragama islam. Beliau adalah lulusan IKIP Muhammadiyah Yogyakarta jurusan Pendidikan umum. Beliau menuturkan bahwa hubungan antara siswa yang beragama Kristen dengan yang beragama Islam bisa terjalin secara harmonis. Begitu pula dengan para guru yang mengajar di situ. Iklim toleransi di sekolah tersebut cukup baik.

Sebagaimana tugas guru BK pada umumnya, beliau secara khusus mengampu mata pelajaran Bimbingan dan Konseling. Beliau bekerjasama dengan wali kelas serta para guru mata pelajaran yang lain untuk memperoleh perkembangan informasi seputar permasalahan-permasalahan yang mungkin sedang dialami oleh anak siswa.

Program kerja yang rutin beliau lakukan diantaranya ialah memberikan pemahaman tentang peran dan fungsi guru BK kepada para siswa baru. Proses internalisasi pemahaman ini cukup berhasil. Terbukti dengan jalinan relasi yang terbangun antara siswa dan guru BK cukup intens. Para siswa tidak segan-segan untuk datang ke ruangan BK dan mengadukan segala macam permasalahan yang mereka alami, baik masalah pribadi maupun social. Beliau juga juga mengatakan bahwa sering orangtua siswa menelepon untuk berkonsultasi terkait dengan permasalahan anaknya.

Apabila kasus atau permasalahan yang cukup berat dan BK tidak mampu untuk menyelesaikannya, maka guru BK melibatkan kepala sekolah untuk memberikan solusi yang terbaik. Namun selama beliau menjadi guru BK di situ, belum ada alih tangan kasus yang melibatkan pihak kepolisian.
Sumber gambar: pixabay.com
Dalam rangka meningkatkan mutu dan layanan bagi siswa, guru BK menggunakan instrumen yang disebut dengan IKMS (Identifikasi Kebutuhan dan Masalah Siswa). IKMS ini semacam angket yang berisi daftar kebutuhan dan permasalahan siswa. IKMS ini diberikan kepada setiap siswa ketika ia baru masuk ke sekolah tersebut. Setelah menerima draft IKMS, siswa disuruh untuk memilih apa saja yang ia butuhkan dan apa saja permasalahan yang ia hadapi mengacu pada pilihan yang terdapat dalam IKMS tersebut.

Hasilnya kemudian dianalisis dan diidentifikasi apa saja permasalahan dan kebutuhan siswa. Setelah itu permasalahan dan kebutuhan tersebut diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan, yaitu tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Bagi anak yang tingkat permasalahannya tinggi, maka BK memanggil anak tersebut untuk diberi bimbingan dan konseling.

Selain program IKMS, menurut penuturan ibu Kusnul Ganiah sebagai guru BK juga aktif menghadiri pertemuan rutin guru BK se-Ponorogo yang tergabung dalam MGBK (Musyawarah guru bimbingan dan konseling) di gedung PGRI.

Itulah paparan singkat saya tentang hasil penelitian yang saya lakukan di SMP Katolik Slamet Riyadi Ponorogo.

0 Komentar Pengalaman Wawancara dengan Guru BK di SMP Katolik Slamet Riyadi Ponorogo

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top