Latar Belakang Perlunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Latar Belakang Perlunya Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan Konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Manusia di dalam kehidupannya selalu menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi, persoalan yang lain muncul, demikian seterusnya. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Manusia perlu mengenal dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya. Karena dengan mengenal dirinya sendiri, mereka akan dapat bertindak dengan tepat sesuai dengan kemampuan yang ada pada pada dirinya.

Bimbingan dan Konseling adalah pemberian bantuan kepada para peserta didik baik secara individual maupun kelompok mengenai permasalahan-permasalahan yang dihadapi agar mereka dapat mandiri dan berkembang secara optimal. Adapun latar belakang perlunya Bimbingan Konseling dapat dibedakan menjadi beberapa faktor diantaranya

pengertian bimbingan konseling, tujuan bimbingan konseling, prinsip bimbingan konseling, guru bimbingan konseling
1. BERDASARKAN FAKTOR PSIKOLOGIS

Perlunya BK Berdasarkan Aspek Psikologis Bimbingan dan konseling sangat perlu sekali karena pada dasarnya dapat memberikan penjelasan bahwa individu merupakan pribadi yang unik seperti menyangkut aspek kecerdasan, emosional, sosiabilitas, sikap, kebiasaan, dan kemampuan penyesuaian diri, individu tidak sama dan pasti memiliki perbedaan, dapat memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu seiring perkembangannya yang selalu berubah sesuai dengan tugas perkembangannya kearah kematangan, tingkah laku yang perlu diubah atau dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, serta dapat memberikan pemahaman tentang masalah-masalah psikologis. Baca juga Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Keteladanan.

Selanjutnya akan diuraikan masalah psikologis yang merupakan latar belakang perlunya Bimbingan dan Konseling di sekolah

A. Masalah perkembangan individu
  1. Hasil proses belajar tergantung pada tingkat kematangan yang telah dicapai
  2. Tempo perkembangan berlangsung cepat pada tahun- tahun permulaan
  3. Setiap individu memiliki tempo perkembangan masing-masing
  4. Perkembangan individu mengikuti pola umum
  5. Faktor pembawaan dan lingkungan sama pengaruhnya terhadap proses perkembangan individu
  6. Masalah perbedaan individu di sekolah siswa dibentuk oleh lingkungan guru dan materi pelajaran yang yang sama, akan tetapi hasilnya berbeda, ada siswa yang cepat, lambat, ada yang cerdas, dan malas dalam belajar.
Kenyataan ini menunjukkan pelayanan bimbingan dan konseling diperlukan, mengingat bahwa yang menjadi tujuan pendidikan adalah perkembangan yang optimal dari setiap murid, maka masalah perbedaan individu perlu mendapatkan perhatian dalam pelayanan pendidikan di sekolah.

B. Faktor Perbedaan Individu


Keunikan individu berarti tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik aspek jasmaniah maupun rohaniah. Individu yang satu berbeda dan individu yang lainny.

Faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. Perbedaan pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu meskipun dengan lingkungan sama. Dan sebaliknya lingkungan yang berbeda akan memungkinkan timbulnya perbedaan individu meskipun pembawaannya sama.

Di sekolah seringkali tampak masalah perbedaan individu ini, misalnya ada siswa yang sangat cepat dan ada yang lambat belajar, ada yang cerdas, dan ada yang berbakat dalam bidang tertentu, dan sebagainya.

Kenyataan ini akan membawa konsekwensi bagi pelayanan pendidikan, khususnya yang menyangkut bahan pelajaran, metode mengajar, alat-alat pelajaran, penilaian, dan pelayanan lain. Di samping itu, perbedaan perbedaan ini seringkali banyak menimbulkan masalah-masalah baik bagi siswa itu sendiri maupun bagi lingkungan. Siswa akan menghadapi kesulitan dalam penyesuaian diri antara keunikan dirinya dengan tuntutan dalam lingkungannya

Beberapa segi perbedaan individual yang perlu mendapat perhatian ialah perbedaan dalam:
  1. Kecerdasan
  2. Kecakapan
  3. Hasil belajar
  4. Bakat
  5. Sikap
  6. Kebiasaan
  7. Pengetahuan
  8. Kepribadian
  9. Cita-cita
  10. Kebutuhan
  11. Minat
  12. Pola-pola dan tempo perkembangan
  13. Ciri-ciri jasmaniah
  14. Latar belakang lingkungan
Data tentang perbedaan-perbedaan tersebut akan besar sekali manfaatnya bagi usaha bantuan yang diberikan kepada siswa di sekolah.

C. Masalah Kebutuhan Individu

Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan ini sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kebutuhannya, maka dia akan merasa puas, dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan.

Dengan berpegang kepada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara dalam memenuhi kebutuhannya, maka kegiatan belajar pada hakikatnya merupakan perwujudan usaha pemenuhan kebutuhan tersebut.

Sekolah hendaknya menyadari hal tersebut, baik dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan pada diri siswa, maupun dalam memberikan bantuan yang sebaik-baiknya dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut.

Seperti telah dikatakan di atas, kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah-masalah bagi dirinya. Pada umumnya secara psikologis dikenal ada dua jenis kebutuhan dalam diri individu yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis. Beberapa diantara kebutuhan-kebutuhan yang harus kita perhatikan ialah kebutuhan:
  1. Memperoleh kasih sayang
  2. Memperoleh harga diri
  3. Untuk memperoleh pengharapan yang sama
  4. Ingin dikenal
  5. Memperoleh prestasi dan posisi
  6. Untuk dibutuhkan orang lain
  7. Merasa bagian dari kelompok
  8. Rasa aman dan perlindungan diri
  9. Untuk memperoleh kemerdekaan diri
Pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan dan konseling merupakan salah satu usaha kearah itu.

D. Masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku

Kegiatan atau tingkah laku pada hakikatnya merupakan cara pemenuhan kebutuhan. Banyak cara yang dapat ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara-cara yang disadari maupun yang tidak disadari. Yang penting untuk dapat memenuhi kebutuhan ini, individu harus dapat menyesuaikan antara kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri. Individu harus menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan baik lingkungan sekolah, rumah maupun masyarakat.

Proses penyesuaian diri ini banyak sekali menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri individu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya, hal itu disebut “adjusted” atau penyesuaian yang baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri tersebut, disebut “maladjusted” atau salah sesuai.

Dalam hal ini sekolah hendaknya memberikan bantuan agar setiap siswa dapat menyesuaikan diri dengan baik dan terhindar dan timbulnya gejala gejala tidak sesuai. Sekolah hendaknya menempatkan diri sebagai suatu lingkungan yang memberikan kemudahan-kemudahan untuk tercapainya penyesuaian yang baik.

Sebagaimana telah dikatakan bahwa jika individu gagal dalam memperoleh penyesuaian diri, maka ia akan sampai pada suatu situasi tidak sesuai. Gejala-gejala tidak sesuai ini akan dimanifestasikan dalam bentuk tingkah laku yang kurang wajar atau yang sering disebut sebagai bentuk kelainan tingkah laku.

Kenyataan kelainan tingkah laku ini sering tampak seperti tingkah laku agresif, rasa rendah diri, bersifat bandel, haus perhatian, mencuri dan sebagainya. Gejala-gejala semacam itu seringkali banyak menimbulkan berbagai masalah. Tentu saja hal itu tidak dapat dibiarkan terus, karena

E. Masalah belajar

Secara psikologis belajar dapat diartikan sebagai suatu proses memperoleh perubahan tingkah laku untuk memperoleh pola-pola respons yang baru yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien. Dalam proses belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar. Beberapa masalah belajar, misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar perbuatan belajar berhasil, memilih metode dan alat-alat yang tepat sesuai dengan jenis dan situasi belajar, membuat rencana belajar bagi siswa, menyesuaikan proses belajar dengan keunikan siswa, penilaian hasil belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagainya. Pelajari juga Penyebab Kesulitan Belajar Anak dan Cara Mengatasinya

Beberapa masalah belajar, misalnya:
  1. Bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar perbuatan belajar berhasil,
  2. Memilih metode dan alat-alat yang tepat sesuai dengan jenis dan situasi belajar,
  3. Membuat rencana belajar bagi siswa, menyesuaikan proses belajar dengan keunikan siswa, penilaian hasil belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagainya.
Bagi siswa sendiri, masalah belajar yang mungkin timbul misalnya
  1. Pengaturan waktu belajar
  2. Memilih cara belajar
  3. Menggunakan buku-buku pelajaran
  4. Belajar berkelompok
  5. Mempersiapkan ujian, memilih jurusan kuliah dan mata kuliah yang cocok, dsb
Jadi jelas bahwa dalam kegiatan belajar ini banyak masalah-masalah yang timbul terutama yang dirasakan oleh si pelajar. Sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar mereka berhasil dalam belajar. Untuk itu hendaknya sekolah memberikan bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar. Di sinilah letak penting dan perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu agar mereka berhasil dalam belajar. Silahkan pelajari 14 Tips Belajar Efektif dan Menyenangkan

2. BERDASARKAN FAKTOR SOSIAL-BUDAYA

Perkembangan zaman (globalisasi) menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam masyarakat.
Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi, industri, informasi dsb. Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh individu diantaranya:
  1. Pengangguran
  2. Syarat-syarat pekerjaan
  3. Gangguan penyesuaian diri, jenis dan kesempatan pendidikan,
  4. Perencanaan dan pemilihan pendidikan
  5. Masalah hubungan sosial
  6. Masalah keluarga
  7. Keuangan, masalah pribadi dsb.
Walaupun pada umumnya masing-masing individu berhasil mengatasi dengan sempurna, sebagian lain masih perlu mendapatkan bantuan. Contoh Tanggung jawab sekolah, membantu para siswa baik sebagai pribadi maupun sebagai calon anggota masyarakat, dengan mendidik dan menyiapkan siswa agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat dan mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya dengan demikian Program bimbingan dan konseling bisabmembantu berhasilnya program pendidikan pada umumnya.

3. BERDASARKAN FAKTOR AGAMA

Setiap individu merupakan makhluk Tuhan yang pada dasarnya sama memiliki fitrah sebagai khalifah dan hamba-Nya. Dalam kategori ini pun, sangat diperlukan sekali bimbingan terhadap setiap tantangan dimensi spiritualitas individu, seperti: dekadensi moral, budaya hedonistik, dan penyakit hati.

Bimbingan dalam hal ini diperuntukan agar setiap individu mampu memandang setiap tantangan ke arah positif bukan malah terjerumus ke arah negatif, sehingga kehidupan dapat dijalani sesuai dengan kaidah-kaidah agama. Alasan inilah yang mendorong adanya bimbingan di sekolah, khususnya bimbingan yang berkaitan dengan kehidupan moral.

Landasan agama bimbingan dan koseling pada dasarnya ingin menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan segenap kemuliaannya, pendekatan bimbingan dan koseling yang terintegrasi didalamnya dimensi agama, ternyata disenangi oleh masyarakat amerika dewasa ini. Kondisi ini didasarkan oleh hasil polling gallup pada tahun 1992 yang menunjukkan:
  1. Sebanyak 66% masyarakat menyenangi konselor yang profisional, yang memiliki nilai-nilai keyakinan dan spiritual.
  2. Sebanyak 80% masyarakat menyenangi proses konseling yang memperhatikan nilai-nilai keyakinan (agama)
4. BERDASARKAN FAKTOR PENDIDIKAN

Pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Sedangkan tujuan pendidikan (GBHN) adalah: “Untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

Jelas bahwa yang menjadi tujuan inti dari pendidikan adalah perkembangan kepribadian secara optimal dari setiap anak didik sebagai pribadi sesuai dengan potensi masing-masing.

Contoh Pribadi yang berkembang :
  1. Kegiatan pendidikan bersifat menyeluruh
  2. Tidak hanya berupa kegiatan instruksional (pengajaran) akan
  3. tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak
  4. didik secara pribadi mendapat layanan sehingga akhirnya
  5. dapat berkembang secara optimal
  6. Pengadministrasian yang baik
  7. Kurikulum beserta proses belajar mengajar yang memadai
  8. Layanan pribadi kepada anak didik melalui bimbingan & konseling.
Dengan demikian maka hasil pendidikan sesungguhnya akan tercermin pada pribadi anak didik yang berkembang baik secara akademik, psikologis, maupun sosial.

Apakah peran Guru dalam pendidikan?
  1. Pengambilan inisiatif, pengarah dan penilai kegiatan-kegiatan pendidikan. Hal ini berarti bahwa guru turut serta memikirkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang direncanakan serta nilainya. 
  2. Wakil masyarakat yang berarti dalam lingkungan sekolah guru menjadi suatu masyarakat. Guru harus mencerminkan suasana dan kemauan masyarakat dalam arti yang baik.
  3. Orang yang ahli dalam mata pelajaran. Bahwa guru bertanggung jawab untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan, hendaknya akan diajarkannya baik isi maupun metode.
  4. Penegak disiplin yaitu harus menjaga agar tercapai suatu disiplin.
  5. Pelaksana administrasi pendidikan Di samping menjadi pengajar, guru pun bertanggung jawab akan kelancaran jalannya pendidikan. Dia harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan administratif.
  6. Pemimpin generasi muda. Masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk menjadi anggota masyarakat yang dewasa.
  7. Penterjemah kepada masyarakat artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya untuk masalah-masalah pendidikan. Baca juga 10 Rutinitas dan Tanggung Jawab Seorang Guru yang Wajib Diketahui
    Perlunya BK Berdasarkan Pendidikan

    Ada tiga hal pokok yang menjadi latar belakang perlunya bimbingan dilihat dan segi pendidikan.
    1. Pertama adalah dilihat dan hakikat pendidikan sebagai suatu usaha sadar dalam mengembangkan kepribadian. Hal ini mengandung implikasi bahwa proses pendidikan menuntut adanya pendekatan yang lebih luas dari pada sekedar pengajaran
    2. Kedua pendidikan senantiasa berkembang secara dinamis dan karenanya selalu terjadi perubahan perubahan dan penyesuaian dalam komponen-komponennya
    3. Ketiga pada hakikatnya guru mempunyai peranan yang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi lebih luas dari itu, yaitu sebagai pendidik

    Dilihat dan segi dirinya sendiri (self oriented), seorang guru harus berperan sebagai:
    1. Petugas sosial yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. 
    2. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi di dalamnya.
    3. Pelajar dan ilmuwan yaitu sebagai yang senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan.
    4. Dengan berbagai cara setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Disamping itu guru menjadi spesialisasi, misalnya seorang guru matematik akan menjadi wakil dan dunia matematika.
    5. Orang tua: yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya.
    Sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga, sehingga dalam arti luas sekolah dapat merupakan keluarga di mana guru berperan sebagai orang tua dari siswa-siswanya.

    Secara psikologis, Guru dipandang sebagai:
    1. Ahli psikologi pendidikan yaitu petugas psikologi dalam pendidikan, yang melaksanakan tugasnya atas dasar prinsipprinsip psikologi.
    2. Seniman dalam hubungan antar manusia ( human relation), yaitu orang yang mampu membuat hubungan antarmanusia untuk tujuan tertentu, dengan menggunakan teknik tertentu, khususnya dalam kegiatan pendidikan.
    3. Pembentuk kelompok sebagai jalan atau alat dalam pendidikan.
    4. Catalytic agent yaitu orang yang mempunyai pengaruh dalam menimbulkan pembaharuan. Sering pula peranan ini disebut sebagai inovator (pembaharu).
    5. Petugas kesehatan mental ( hygiene worker) yang bertanggung jawab terhadap pembinaan kesehatan mental khususnya kesehatan mental siswa.

    Guru sebagai direktur belajar

    Dalam proses belajar mengajar tidak hanya memakai pendekatan instruksional tetapi juga melalui
    pendekatan, harus memahami siswa secara mendalam sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajarnya. Sebagai ‘director of learning’ , guru sekaligus berperan sebagai pembimbing dalam proses belajar siswanya yang harus :
    1. mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok
    2. memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar
    3. memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya
    4. membantu setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya
    5. menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukan.
    Ada tiga hal pokok yang menjadi latar belakang perlunya bimbingan konseling; dilihat dan segi pendidikan.

    Dilihat dari hakikat pendidikan sebagai suatu usaha sadar dalam mengembangkan kepribadian. Maka dalam hal ini proses pendidikan menuntut adanya pendekatan yang lebih luas dari pada sekedar pengajaran; yaitu dengan pendekatan pribadi melalui layanan bimbingan dan konseling.

    Pendidikan senantiasa berkembang secara dinamis dan karenanya selalu terjadi perubahan perubahan dan penyesuaian dalam komponen-komponennya. Siswa sebagai subjek didik memerlukan bantuan dalam penyesuaian diri melalui layanan bimbingan.

    Guru mempunyai peranan yang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi lebih luas lagi yaitu sebagai pendidik Guru seyogyanya dapat menggunakan pendekatan pribadi dalam mendidik para siswanya diwujudkan melalui layanan bimbingan.

    Uraian di atas, menjelaskan bahwa perlunya layanan bimbingan di sekolah adalah berlatarbelakangkan tiga aspek.
    1. Pertama adalah aspek lingkungan khususnya lingkungan. sosial kultural, yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi individu siswa sebagai subjek didik, dan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sebagai akibat dari lingkungan pengaruh sosial-kultural ini, maka individu memerlukan adanya bantuan dalam perkembangannya, dan sekolahpun memerlukan pendekatan khusus. Bantuan dan pendekatan yang diperlukan adalah layanan bimbingan dan konseling.
    2. Aspek yang kedua adalah lembaganya itu sendiri yaitu pendidikan yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kepribadian subjek didik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dilaksanakan secara tuntas baik dalam proses kegiatannya maupun tindak dan para pelaksana nya yaitu guru sebagai pendidik. Untuk menuntaskan pendidikan, diperlu kan adanya layanan bimbingan dan konseling.
    3. Aspek ketiga adalah yang menyangkut segi subjek didik sebagai pribadi yang unik, dinamik dan berkembang, memerlukan pendekatan dan bantuan yang khusus melalui layanan bimbingan dan konseling. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aspek lingkungan (sosial kultural) pendidikan, dan siswa (psikologis) merupakan latar belakang perlunya layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
    5. BERDASARKAN FAKTOR IPTEK

    Di era ini ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi berkembang sangat pesat. Oleh karena itu, diperlukannya Bimbingan dan Konseling, agar individu dapat mengetahui dampak positif dan negatifnya dari perkembangan tersebut. Lewat Bimbingan dan Konseling, individu diarahkan kepada dampak positif dari IPTEK yang lebih ditujukan pada penerapan teknologi yang harus dimilliki dan dikuasai karena semakin kompleksnya jenis-jenis dan syarat pekerjaan serta persaingan antar individu.

    Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, timbul dua masalah penting yang menyebabakan
    kerumitan struktur dan keadaan masyarakat, ialah:
    1. Penggantian sebagian besar tenaga kerja dengan alat-alat mekanis-elektronik, dan hal ini mau tidak mau menyebabkan pengangguran.
    2. Bertambahnya jenis-jenis pekerjaan dan jabatan baru yang menghendaki keahlian khusus dan memerlukan pendidikan khusus pula bagi orang-orang yang hendak menjabatnya.



    Sumber: Slide Mata kuliah Bimbingan dan Konseling oleh bu LISA DEVI DIAN ARIFIA, M.Psi
    Wikipendidikan
    Back To Top